Selasa, 20 Maret 2012

Asal Usul Bel


ASAL USUL BEL


Zaman sekarang dentang lonceng memang jarang terdengar. Fungsi lonceng telah digantikan oleh bel listrik. Selain praktis, lebih nyaring, melodinya pun bisa dibuat bervariasi.
Konon, lonceng atau bel berasal dari kata dalam bahasa Anglo-Saxon bellan yang artinya berteriak, asal-usulnya di jaman perunggu (6500 - 3000 SM). Bermula dari sekadar me-rangkaikan sejumlah lempengan yang bila diguncangkan akan bergemerincing, lalu dimodifikasi menjadi cangkir terbalik yang di dalamnya diikatkan sebutir kerikil, lahirlah lonceng primitif.
Namun lonceng seperti yang kita lihat sekarang, tampaknya baru dikenal dalam peradaban manusia sekitar tahun 800 SM. Buktinya, dari penemuan arkeologis didapatkan lonceng perunggu penuh ornamen dari Asiria. Bahkan masyarakat Cina dari masa yang sama pun diduga sudah mengenal lonceng. Tak heran bila muncul kesimpulan, lonceng berasal dari kawasan Asia.
Fungsinya pun beragam sekaligus unik. Di Yunani kuno misalnya, pada masa perang bunyi lonceng memperingatkan warga bahwa musuh telah mendekati gerbang kota. Sedangkan di masa damai, dentangnya pertanda ikan-ikan segar telah tiba di pasar dan siap diperdagangkan.
Bagaimana lonceng menyebar ke wilayah lain? Adalah bangsa Celt, nenek moyang bangsa Irlandia, Skotlandia, dan Wales yang masyhur dengan ilmu cetak logam yang membawanya ke Eropa.
Selanjutnya perkembangan lonceng sesuai dengan wilayah pakainya, Barat dan Timur. Lonceng di Timur biasanya serupa pot atau ember panjang dengan tebal dinding merata di seluruh bagiannya dan untuk membunyikannya harus dengan dipukul. Sedangkan lonceng di Barat lebih mirip cangkir. Lonceng yang banyak diternukan di Eropa Barat dan Selatan itu dibunyikan dengan diayun agar lidah lonceng menghantam dindingnya.
Perkembangannya melahirkan pengetahuan baru yaitu ilmu dan seni tentang bel atau campanology yang berakar dari kata Italia campana yang berarti lonceng. Umumnya lonceng terbuat dari campuran tembaga dan timah, meski ada juga lonceng dari kayu, batu, tulang, dan sebagainya.
Saat pembuatan, digunakan dua cetakan untuk bagian dalam dan bagian luar, bisa dari tanah liat atau salah satu dari besi. Untuk bagian dalam cetakannya dibuat solid, sedangkan bagian luar berongga. Masing-masing dibuat berpori-pori sehingga gas dalam logam cair bisa keluar. Kalau tidak, din-
ding lonceng akan menyimpan gelembung udara, hasilnya pun tidak sempurna.
Selanjutnya, logam cair dalam cetakan didiamkan sampai mengeras. Sebelum bentuknya yang sekarang, lonceng mengalami evolusi. Pada abad ke-9 bibir lonceng perunggu dipertebal agar tidak mudah retak terhantam lidah atau saat diletakkan. Perubahan lain terjadi di bagian pinggang. Lonceng yang semula berpinggang panjang dan cembung, pada abad ke-13 menjadi ce-kung, serupa dengan bentuk sekarang. Bibirnya pun sangat menonjol, sehingga bunyinya pun makin nyaring.
Malah sejak 1400-an ukuran lonceng pun makin besar. Penyebabnya, daerah hunian masyarakat makin luas, dentang lonceng pun harus bisa terdengar makin jauh. Karena kekhasannya, lonceng juga dipakai dalam komposisi orkestra. Di antaranya tahun 1791 oleh Nicholas Dalayrac dalam opera Camille, dan tiga tahun kemudian oleh komponis Italia Luigi Cherubini dalam opera Elisa. Sayang, karena kurang praktis dan terlalu mahal, fungsinya digantikan genta tabung.
Beberapa lonceng terkenal adalah Big Ben di London, Katedral Notre Dame di Paris, Katedral Santo Petrus di Vatikan. Sedangkan lonceng terbesar adalah Tsar Kolokov di Kremlin, Moskow, yang dicetak tahun 1733 dengan lingkar mulut 690,9 cm dan berat 201.472,5 kg. Tragisnya, ketika dibunyikan untuk pertama kali lonceng itu pecah akibat kesalahan saat mencetak. Selanjutnya, dentangnya tak bergema lagi.
(Sumber : Intisari Juni 1998 No. 419 Tahun XXXV)

1 komentar: