Selasa, 20 Maret 2012

Asal Usul Uang


ASAL USUL UANG
Saat uang belum ada, yang terjadi adalah barter. Kemudian nenek moyang kita menyadari bahwa ada benda-benda tertentu yang mudah ditukarkan dengan pelbagai benda atau layanan. Di Thailand, hampir semua bagian tubuh harimau pernah punya nilai tukar seperti uang. Di Birma, pernah dikenal “uang tambur”, karena alat musik ini dipandang bernilai tinggi. Bahkan mata kail pun pernah berfungsi sebagai uang di Amerika Utara. Boleh dibilang pelbagai macam benda pernah punya nilai tukar sebagai uang, misalnya gigi anjing atau ikan paus, kerang, teh, lempengan bata, manik-manik, kulit binatang, ternak, kain, garam, benda-benda dari emas, perak atau perunggu.
Diduga koin pertama, buatan tahun 600 SM di Lydia (kini Turki bagian barat), berbentuk biji buncis yang terbuat dari campuran emas dan perak. Pada permukaannya ada stempel raja sebagai jaminan akan keseragaman nilainya. Berkat cap tersebut, para penggunanya tidak perlu repot lagi mengecek berat koin untuk menentukan nilainya. Karena praktis, banyak negara lain ikut membuat dan menggunakan koin sendiri. Seperti yang dilakukan Yunani dengan teadrachm-nya yang dikeluarkan tahun 400 SM. Bagian depan koin itu memuat cap gambai Dewi Athena, sedang di baliknya terpampang gambar burung hantu.
Sejarawan yakin masyarakat Cina dan India kuno pun secara terpisah telah mengenal dan menggunakan koin. Bahkan sejak tahun 1100 SM, mereka sudah menggunakan miniatur benda-benda perunggu yang punya nilai tukar sebagai uang. Diperkirakan, miniatur itulah yang kemudian berkembang menjadi koin.
Bagaimana dengan uang kertas? Diduga perkembangannya dimulai di Cina tahun 600. Pedagang Italia Marcopolo yang berkunjung ke Cina tahun 1200-an sempat kagum melihat bagai-mana masyarakat Cina menggunakan uang kertas, bukan koin. Namun, masyarakat Eropa baru meniru metode uang kertas di tahun 1600-an, ketika banyak bank mengeluarkan bank notes, “nota bank” yang dapat ditukarkan dengan koin emas atau perak yang disimpan di bank. Dalam perkembangannya, bank notes kini berarti “uang kertas” seperti yang kita kenal sekarang.
Lucunya; kartu remi pun pernah dipakai sebagai pengganti uang. Uang kartu ini muncul tahun 1685 di Kanada, saat wilayah tersebut menjadi koloni Prancis. Pada masa itu gaji tentara Prancis yang bertugas di sana sering datang terlambat, karena harus dikapalkan menyeberangi S. Atlantik. Karena kelangkaan dana tunai, pemerintah kolonial menggunakan kartu remi sebagai uang dengan cara menandai setiap kartu dengan nilai nominal tertentu yang disahkan dengan tanda tangan gubernur. Meski cuma kartu, “uang” tersebut sempat beredar selama lebih dari 70 tahun.
Tahun 1800-an, kebanyakan uang kertas yang beredar masih dikeluarkan oleh bank atau perusahaan swasta. Lalu berangsur-angsur pemerintah dan bank sentral mengambil alih wewenang membuat uang kertas di suatu negara.
Meski kini uang sudah jadi alat tukar yang umum, di beberapa bagian dunia praktik barter masih dilakukan juga, misalnya masyarakat petani di beberapa negara berkembang Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Alasannya, mereka jarang
menerima dana tunai. Tapi jangan kaget, masyarakat negara industri pun pernah terpaksa melakukan hal serupa, jika uang langka atau jatuh nilainya. Setelah Jerman kalah dalam PD II (1939-1945), nilai uangnya anjlok sehingga orang lebih suka melakukan barter. Alat tukar yang saat itu bernilai adalah rokok, kopi, dan gula, yang jumlahnya sangat terbatas.
(Sumber : Intisari Oktober 1997 No. 411 Tahun XXXV)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar