Selasa, 20 Maret 2012

Kecoa


KECOA (COCKROACH)
Oleh : ADE KURNIA

Binatang kecil pipih berkaki enam yang bergerigi ini biasanya muncul di malam hari dari balik dinding atau gorong-gorong. Kemunculannya sering membuat orang jijik. Apalagi ia termasuk serangga yang  susah dibasmi.
Kecoa atau lipas sudah ada sejak 300 juta tahun yang lalu, warnanya coklat merah kehitaman. Ia ditakdirkan untuk bisa bertahan di segala musim dan iklim, baik panas menyengat ataupun dingin membeku. Mereka bahkan lebih resisten terhadap radiasi dibandingkan dengan makhluk lain. Faktanya, hanya kecoa yang selamat dari Perang Dunia II.
Saat ini, lebih dari 3000 spesies kecoa menghuni planet bumi. Mereka tinggal di dalam rumah, menyelinap ke rumah sakit, merangkak di bawah meja restoran, mamanjat saluran sanitasi, terbang diantara sampah. Sampai berkeliaran di dasar hutan lebat Amazon. Atau bahkan ketika Anda membaca tulisan ini, mungkin ada seekor kecoa yang merayap di kaki atau punggung Anda! Waspadalah!
Binatang ini mampu hidup selama sebulan tanpa kepalanya, sampai akhirnya mati kelaparan. Betul kecoa tidak butuh kepala untuk bernafas, bahkan otak sebagai kontrol tubuh! Kehilangan kepala tidak berarti kehilangan darah seperti kita. Di alam bebas, ia menjadi santapan burung, mamalia kecil, dan binatang amfibi. Namun di perkotaan kecoa nyaris tidak mempunyai musuh, kecuali mungkin Anda yang mati-matian membunuhnya, meski sering tidak mudah. Jika Anda mengira kecoa langsung mati ketika Anda pukul, Anda salah besar! Beberapa menit berselang, kecoa itu akan kembali berjalan dan kabur entah kemana. Punggungnya memiliki palindung yang kuat.
Ketahanan kecoa diimbangi pula dengan cepatnya berkembang biak. Dalam sebulan ia bisa menghasilkan kecoa “junior” lebih dari 40 ekor. Mereka kaum omnivora atau makan apa saja. Feses, lem, sisa makanan, organisme mati (termasuk mayat manusia), keturunannya sendiri, bahkan bir sendiri pun dilahapnya! Wah, wah!
Selain menjijikan bagi kebanyakan orang (bahkan beberapa orang begitu fobia kepadanya), kecoa dituding sebagai penyebar bakteri dan penyakit. Juga dituduh menyebabkan gangguan pernafasan dan memicu asma serta mengkontaminasi makanan.
Tapi apakah kehadiran kecoa di dunia ini tanpa ada gunanya sama sekali? Tentu saja ada! Kecoa itu bagian dari rantai makanan. Kalau dia hilang, ibarat rantai motor atau sepeda, motor atau sepeda Anda tidak bisa jalan lagi. Selain sebagai santapan binatang lain, kecoa membantu membersihkan lingkungan kita dari sisa-sisa organisme.
Seperti halnya anjing, kecoa sesungguhnya serangga yang peduli akan kebersihan diri. Jika Anda sudah membersihkan rumah, tetapi masih melihat kecoa menyerang dapur Anda, bergembiralah! Percaya atau tidak, ini sesunguhnya bukti bahwa lingkungan rumah Anda sudah bersih. Saking bersihnya sampai tidak menyediakan makanan bagi sejumlah koloni kecil kecoa. Makanya sampai ada kecoa yang nekat mengorek-ngorek sisa makanan di dapur Anda.
Dan satu lagi tentang kecoa, kalau diperhatikan, seringkali kecoa itu kabur lebih dulu sebelum pukulan Anda mengenai sasaran. Dan ini yang mambuat Anda (atau bahkan semua orang ) semakin geram, aneh bukan? Kok seakan-akan kecoa itu tahu kalau dirinya hendak diusir? Apakah kecoa itu memiliki mata ketiga di punggungnya ? Sebuah penelitian terhadap kecoa di Institut Riset NEC, Princeton Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa kecoa memiliki indera keenam. Indera keenam ini terletak di punggungnya dan tertutup oleh bulu-bulu halus dan tipis. Indera keenam ini mampu menangkap tanda (sinyal) adanya gerakan udara di seputar tubuhnya. Misalnya setiap ada ayunan gulungan kertas koran yang akan mengenai tubuhnya, kecoa akan segera tahu. Hmmm . . . . pantas, sebelum kena timpuk, kecoa sudah kabur untuk menyelamatkan diri.  m(^^)m
(Sumber : Bobo Th. XXVIII/29 Juni 2000, Intisari Oktober 2004)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar