Selasa, 20 Maret 2012

Makalah Pengaruh Buruk Televisi






“Sebuah kumpulan artikel tentang televisi dan media lainnya
dari beberapa surat kabar dan majalah yang dijembatani
dengan bahasa yang lincah dan lugas. Tidak menggurui,
tapi mendidik kita untuk lebih waspada terhadap
tayangan televisi”

















Kupersembahkan karya kecil ini
untuk sahabatku, rekan-rekanku,
para pembimbingku, dan keluarga tercintaku.

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Alloh, Tuhan Semesta Alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan kita memohon ampunan kepada-Nya. Selawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya juga kita selalu umatnya. Amiin.
Dengan segala keterbatasan, akhirnya penyusun berhasil mengumpulkan beberapa opini masyarakat yang kemudian menjadi sebuah karya yang semoga saja menjadi bahan renungan bagi para pembaca. Makalah sederhana ini bercerita tentang kegemaran masyarakat akan televisi (dan beberapa media lainnya) untuk menyikapi bobrok-nya tayangan pertelevisian di tanah air. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari sebuah karya kecil yang sama sekali tidak sempurna ini.
Kritik dan saran sangat penyusun harapkan untuk perbaikan makalah ini di kemudian hari.




Kuningan, 17 Juli 2007


Penyusun





BAB I
TELEVISI SEBAGAI MEDIA MASSA

A.                             Pengertian Media Massa
Media informasi, baik media cetak seperti koran dan majalah, maupun media elektronik berupa radio, televisi dan koneksi internet, sangat cepat perkembangannya. Semua media tersebut telah hampir merambah daerah-daerah di Indonesia yang terpencil. Dan tentu saja hal tersebut patut kita beri aprersiasi khusus. Dulu buta informasi, sekarang jadi melek informasi, bukankah itu baik? Eit, nanti dulu! Tidak semua hal baik akan berakhir baik pula. Pernah tersirat dalam pikiran anda tentang kenakalan remaja? Aksi vandalisme misalnya? Atau kongkow-kongkow ala geng motor? Lalu apa hubungannya? Mari kita kupas!
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia digital versi 1.1 (http://ebsoft.web.id), media artinya 1. alat, 2. alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Sedangkan massa artinya 1. jumlah yang banyak sekali, sekumpulan orang yang banyak sekali (berkumpul di suatu tempat atau tersebar), 2. kelompok manusia yang bersatu karena dasar atau pegangan tertentu. Dengan demikian, media massa artinya sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Media massa ini ada dua macam yaitu, media cetak dan media elektronik. Media cetak adalah sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala seperti surat kabar, majalah, dan Koran. Media elektronik adalah sarana media massa yang mempergunakan alat-alat elektronik modern, misalnya radio, televisi, dan film, serta jaringan internet. Media massa sangat efektif dalam membentuk opini masyarakat. Bahkan promosi iklan  suatu produk oleh produsennya akan sangat cepat dikenal masyarakat melalui media massa ini. Diantara alat media massa yang paling berpengaruh bagi kehidupan manusia adalah televisi. Masih dalam kamus yang sama, televisi memiliki pengertian, 1) sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar; 2) pesawat penerima gambar siaran televisi.

B.           Asal Mula Televisi
Pada tahun 1925 seorang warga negara Skotlandia yang bernama John Baird mengadakan pertunjukan pertama televisi di kota London. Sedangkan John Baird bertempat tinggal di dekat Glasgow (Skotlandia).
Serupa bioskop dan penemuan-penemuan besar lainnya, tidak seorangpun dapat mengetahui dengan pasti siapa sebenarnya orang yang pertama sekali menemukan pesawat televisi. Tapi John Baird adalah seorang yang mula-mula mengadakan pertunjukan televisi tersebut.
Mengenai televisi yang kita kenal saat ini, memang berbeda dengan sistem yang dipertunjukkan oleh John Baird. Namun dari cara pertunjukkannya memberikan ilham kepada orang-orang lain untuk melanjutkan serta memperbaiki kekurang-kekurangannya.
Pada tahun 1888, adalah tahun kelahiran dari John Baird. Ia adalah anak seorang pendeta yang mendidiknya dengan keras sekali, membuat ia di masa kanak-kanaknya tidak begitu bahagia. John Baird sering sakit-sakitan. Sering pula diserang penyakit pilke, mengakibatkan ia malas pergi ke sekolah. Tetapi walaupun demikian, ia punya kelebihan tersendiri. Daya khayalnya sangat menonjol. Ini dapat dillihat dalam tindakannya sehari-hari yang banyak melakukan percobaan-percobaan.
Suatu hari John Baird membuat sebuah pesawat yang dicobanya melayang di atas atap rumah. Dalam percobaan ini ia gagal. Yang diperolehnya adalah ia terpental jatuh di halaman rumahnya. Tapi walaupun ia mengalami kegagalan, sedikitpun ia tidak pernah berputus asa. Di kota kelahirannya Glasgow, ia mempelajari teknik listrik secara tekun. Berkat kegigihannya akhirnya ia menjadi seorang ahli mesin dan diangkat sebagai seorang pembantu pada perusahaan Clyde Valley.
Kiranya bekerja pada perusahaan tersebut tidak dapat bertahan lama, disebabkan John Baird kembali sakit-sakitan. Pada pimpinan perusahaan tersebut ia meminta berhenti seraya mencari pekerjaan yang lain. Dicobanya berusaha sendiri dengan membuat kaus kaki yang dialiri aliran listrik untuk memanaskan kaki. Kemudian ia pergi ke Hindia Barat untuk membuat dan menjual selai.
Sungguh banyak sekali percobaan-percobaan yang dilakukan oleh John Baird, membuat benda-benda yang dapat mendatangkan uang penghasilan baginya. Tapi semuanya tidak pernah berkepanjangan akibat badannya yang sering sakit-sakitan. Setelah Marconi berhasil mengirim serta menerima gelombang radio pada jarak yang jauh, para sarjana pada saat itu berpendapat bahwa bagaimanapun akan mungkin pula foto ataupun gambar dapat dikirim dari jauh melalui udara.
Tanpa diketahui orang, secara diam-diam John Baird melakukan penyelidikan serta mempelajari dengan tekun tentang bagaimana cara agar gambar dapat dikirim melalui pesawat radio. Sebuah foto yang baik mempunyai bagian-bagian yang terang dan gelap. Bila sebuah gambar foto diletakkan di dekat sepotong selenium dan lalu disorot dengan cahaya, membuat perbedaan aliran listrik pada bagian yang gelap dan yang terang dari foto tersebut. Hasil dari aliran itu kemudian dikirim ke sebuah pemancar supaya bisa diterima alat penerima. Alat penerima inilah yang akan mengubah gelombang menjadi terang dan gelap, sehingga timbul foto yang dikirim itu.
Dari dasar inilah John Baird melakukan percobaan-percobaan dengan tidak mengenal bosan, yang akhirnya ia berhasil memindahkan sebuah gambar ataupun foto dengan jarak yang hanya satu meter. Dengan hasil yang diperolehnya ini ia berangkat ke kota London untuk memperlihatkan hasil ciptaannya itu kepada sebuah perusahaan. Tahun 1925 ia diterima bekerja dengan tugas mengadakan tiga kali pertunjukan televisi yang ditemukannya dalam satu hari pada perusahaan tersebut. Walaupun pada saat itu gambar-gambar yang dipertontonkannya masih kabur, tapi cukup menarik perhatian banyak orang.
Setahun kemudian John Baird mengadakan demonstrasi pertunjukkan di depan wartawan dengan memindahkan wajah seorang pesuruh kantor ke layar pesawatnya. Namun begitulah Baird, ia senantiasa belum puas akan hasil-hasil yang diperolehnya. Untuk melanjutkan pertunjukannya ia lalu pergi ke BBC (British Broadcasting Corporation). Pada pertunjukan di tempat itu hasil-hasil gambar pesawat televisinya masih belum jelas. Tapi BBC tetap memberikan semangat padanya sehingga ia semakin gigih memperdalam penyelidikan pesawat ciptaannya tersebut yang akhirnya membawa ia bisa menyiarkan televisi yang pertama tahun 1929.
Kesuksesan yang diperolehnya menimbulkan minat orang dapat memiliki pesawat televisi buatan John Baird. Pada tahun 1930 televisi Baird sudah bisa bersuara sambil mempertunjukkan sandiwara. Mulai saat itulah televisi dikenal orang yang akhirnya sampai saat ini pesawat tersebut telah dapat kita pergunakan.

C.             Perkembangan Televisi
Di jaman sekarang ini bisa dikatakan televisi merupakan salah satu kebutuhan utama manusia modern. Dengan sebuah televisi, seseorang bisa berhubungan dengan dunia luar melalui berita-berita yang disimaknya, atau terhibur dengan berbagai acara yang tak terhitung banyaknya. Perkembangan pertelevisian dalam 10 tahun terakhir ini sungguh sangat luar biasa. Selain didukung dengan banyaknya stasiun televisi di satu negara, batas antar negarapun kian tak terasa. Kini kita yang ada di Indonesia, dapat menikmati suguhan acara dari mancanegara secara langsung tanpa ada jeda (live). Semua ini bisa tejadi karena adanya teknologi yang dapat memperluas siaran sebuah stasiun televisi ke seluruh penjuru dunia. Hal inilah yang kini mendorong semakin maraknya TV multi-channel, TV multi channel memberikan kita kemudahan dalam menikmati siaran berbagai ragam acara lokal maupun mancanegara. TV multi-channel ini disediakan oleh penyedia jasa televisi berlangganan atau sering juga disebut sebagai Pay TV yang menghadirkan banyak pilihan channel langsung ke rumah melalui kabel atau satelit (Direct-To-Home). Tentunya untuk memperoleh jasa ini harus melalui proses berlangganan. Sebagai pelanggan kita bebas untuk memilih banyak channel, seperti olahraga, pengetahuan, animasi maupun yang diciptakan khusus bagi wanita, anak-anak atau keluarga, bahkan yang terbaru telah muncul channel televisi khusus bagi balita.

D.           Awal dari TV multi- channel
Meskipun pesawat televisi sudah ditemukan sekitar 80 tahun yang lalu, sejarah TV multi-channel bisa ditelusuri mulai tahun 1948 di Amerika Serikat. Berawal dari CATV (Community Antenna Television), sebuah komunitas televisi antena di negara bagian Pennsylvania. John Walson, seorang pemilik toko piranti rumah tangga, membangun antena di atas gunung untuk menangkap siaran TV dari kota terdekat dengan jelas. Menggunakan kabel dan sinyal booster, Walson menghubungkan antena tersebut ke tokonya dan juga ke beberapa rumah pelanggan toko yang dilewati jalur kabel. Dari sini lahirlah sistem TV kabel pertama di AS. Sistem ini memungkinkan penarikan kabel yang menghubungkan pesawat TV di rumah dengan jaringan televisi, sehingga siaran bisa ditangkap dengan jelas, dan para penonton di rumah pun dapat pula nenikmati beberapa stasiun TV secara bersamaan. Dengan kata lain, TV kabel inilah yang memungkinkan adanya TV multi-channel.
Selanjutnya, di Tahun 1972, muncullah channel TV berlangganan yang pertama di Amerika, Home Box Office atau HBO. HBO memelopori pengiriman siaran pertandingan tinju kelas berat dunia, Muhammad Ali versus Joe Frazier di Manila melalui transmisi langsung via satelit. Transmisi satelit ini tentunya mengubah wajah industri pertelevisian secara keseluruhan. Dengan semakin majunya teknologi satelit, kini puluhan sampai ratusan channel bisa ditransmisikan langsung ke pesawat televisi di rumah pelanggan dengan jangkauan yang luas.

E.            Saudara Kembar Televisi
Jauh hari sebelum televisi multi-channel ditemukan, bioskop ini sudah ditemukan oleh manusia lebih dari satu abad yang lalu. Bahkan bisa dikatakan umur bioskop pun lebih tua dari televisi. Dan sampai sekarangpun, bioskop merupakan tempat favorit untuk menonton film.
Tanggal 28 Desember 1895, adalah merupakan tanggal yang sangat penting dalam sejarah perbioskopan. Pada tanggal tersebut dua orang yang bersaudara Louis dan Auguste Luimere  mengadakan pertunjukan bioskop yang pertama di kota Paris. Pada saat itu hampir seluruh pengunjung merasa terpukau atas penemuan dua bersaudara tersebut. Meskipun ketika itu alat proyektor yang mereka pergunakan masih sangat sederhana sekali.
Jika kita bandingkan dengan bioskop pada zaman sekarang ini, memang jauh berbeda. Ceritanya terputus-putus, suaranya pun tidak ada. Namun semua orang pada waktu itu sangat gembira melihat pertunjukan gambar-gambar tersebut. Antara Luimere dan Louis yang bersaudara itu sempat menamainya “Cinematografi”. Yaitu dua perkataan Yunani yang  berarti “gerak” dan “gambar”. Gambar bergerak ataupun gambar hidup dinamakan juga ketetapan penglihatan. Yang pengertiannya kira-kira bila kita pandang suatu benda yang terang dan jelas, kemudian kita tutup mata kita, maka benda yang kita lihat tadi akan terus saja tampak selama kurang seperlima belas detik.
Mengenal masalah ini, orang pertama yang sangat menarik perhatiannya ialah seorang sarjana besar Yunani yang bernama Ptolemeus. Ketetapan pandangan ini pada permulaan abad 19 telah dimulai orang mengadakan percobaan tersebut, jika pada pinggir sebuah piring dipasang serentetan gambar orang yang sedang berlari, sedangkan yang satu melukiskan lanjutan dari gambar gerak sebelumnya. Bila piring bergambar tersebut diputar, maka gambar-gambar tadi akan muncul kembali satu persatu di depan lubang itu. Jika ada seorang yang memperhatikan melalui lubang, maka tampaklah seakan-akan masih saja melihat gambar yang pertama. Sedangkan yang kedua masih saja terlihat lubang itu juga. Maka timbullah suatu kesan bahwa gambar yang benar sedang berlari.
Seorang cendekiawan yang termashur Thomas Alva Edison yang sering menemukan hal-hal yang baru, telah berhasil pula membuat sebuah kamera yang dijalankan dengan memakai tenaga listrik. Pada tahun 1894, dicobanya membuat suatu pertunjukan di depan umum yang dinamakan “Kinetoskop” yang panjangnya hanya setengah menit. Saat itu orang belum lagi menemukan proyektor, sehingga orang-orang yang ingin menyaksikan pertunjukan Thomas Alva Edison, terpaksa bergantian seorang demi seorang. Serupa halnya dengan penemuan-penemuan yang lain, memang sulit juga siapa orang pertama yang menemukan kamera pembuat film, sebab suatu penemuan yang baru, biasanya hasil dan perkembangan karya dari beberapa orang.
Di Amerika, Perancis, Jerman dan Inggris, pada akhir abad ke-19, banyak sekali ditemui para ilmuwan yang mengadakan percobaan-percobaan membuat kamera untuk film bioskop. Namun usaha-usaha mereka tidak menemukan hasil yang baik seperti halnya Luimnere dan saudaranya yang sukses. Dua bersaudara tersebut berhasil mengambil 16 gambar dalam satu detik. Dengan menjalankan film mereka melewati lubang di depan lampu yang terang, gambar lalu disorot pada sebuah layar sehingga meninggalkan kesan bahwa gambar-gambar yang kelihatan pada layar tersebut seolah-olah gerakannya tersambung terus tanpa terputus-putus. Kira-kira tiga bulan sesudah pertunjukan Luimere ini, maka di kota London pun mulailah dipertunjukkan film bioskop dengan menggunakan proyektor yang juga adalah ciptaan Luimere bersaudara. Dari hasil penemuan yang diperoleh Luimere  dengan saudaranya, maka orang-orang yang pandai terus mengadakan perubahan mengenai gambar hidup agar dapat dinikmati lebih puas dan sempurna. Ini terbukti dengan jelas, dimana seorang pemilik gedung sandiwara yang bernama George Melies, ketika melihat pertunjukan hasil karya Luimere, lalu membuat cerita yang difilmkan di kota Paris. Ia berhasil mengembangkan penemuan Luimere walaupun cerita yang disajikannya belum begitu sempurna dan bersuara.
Akhirnya pada tahun 1927, di Amerika orang berhasil merekam bunyi/suara, sehingga sempurnalah film bioskop tersebut. Dari masa ke masa, ilmu yang didapat manusia semakin berkembang. Pengolahan demi pengolahan setiap saat dilakukan orang tentang bioskop, yang sampai akhirnya sampai pada masa sekarang kita telah menikmati pertunjukan bioskop yang sempurna. Sempurna dalam gerak, sempurna dalam pada bidang gambar dan sempurna dari warna asli apa yang kita lihat dengan mata kita sendiri.
















BAB II
TELEVISI DAN PENGARUHNYA TERHADAP REMAJA

A.                 Pengertian Remaja dan Kenakalan Remaja
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia digital versi 1.1 (http://ebsoft.web.id), remaja artinya 1. mulai dewasa, sudah sampai umur untuk kawin, 2. muda 3. pemuda. Remaja kencur (kiasan) artinya remaja yang belum cukup umur. Pada masa remaja ini biasanya disebut juga masa peralihan, yaitu peralihan dari masakanak-kanak ke masa dewasa. Karena dalam masa peralihan, biasanya timbul konflik pribadi (internal) pada remaja itu sendiri, yaitu keengganan disebut anak-anak lagi akan tetapi remaja tersebut belum siap untuk melakukan pekerjaan/masalah orang dewasa. Apabila remaja berhasil melewati masa peralihan ini dengan baik, maka tugas-tugas orang dewasa akan bisa dilakoninya dengan baik. Apabila seorang remaja belum siap akan realita pada masa peralihan ini, maka akan timbul salah kaprah tugas dan tanggungjawab, supaya lebih mudah penyebutannya salah kaprah tugas dan tanggungjawab ini penulis menyebutnya nakal. Kata nakal (masih dalam lamus yang sama) artinya 1. suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dsb, terutama bagi anak-anak), 2. buruk kelakuan (lacur, dsb). Kenakalan artinya 1. sifat nakal, perbuatan nakal, 2. tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kenakalan remaja (Juvenile delinquency) adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja merupakan perilaku remaja yang menyalahi aturan sosial di lingkungan masyarakat tertentu.
Contoh-contoh dari kenakalan remaja diantaranya, yaitu aksi vandalisme (aksi corat-coret tembok fasilitas umum), merokok di sekolah, perkelahian / tawuran antar pelajar, bolos sekolah, penyalahgunaan teknologi untuk pornografi, narkotika, geng-geng/kelompok yang cenderung dekstruktif yang aktivitas sehari-harinya keluyuran malam, dan masih banyak lagi.                                                                                

B.                  Pengaruh Televisi terhadap Perilaku Remaja
Kenakalan remaja merupakan sebuah realita, yang mana kita tidak boleh menutup mata darinya. Mengutip sebuah pepatah, “tidak ada asap kalau tidak ada api”. Begitulah, kenakalan remaja ini tentu ada faktor-faktor penyebabnya. Disebutkan pada pengertian di atas yaitu kurang siapnya remaja dalam menjalani masa peralihan dari masa anak-anak ke jenjang dewasa dapat menyebabkan kenakalan remaja. Hal lain penyebab kenakalan remaja adalah kurang perhatian dari orangtua atau ada perasaan tidak nyaman ketika berada di rumah (broken home). Akan tetapi dua faktor tersebut tidak akan dibahas secara panjang lebar, karena penulis hanya akan memfokuskan permasalahan pada pengaruh televisi terhadap kenakalan remaja.
Bagi sebagian besar orang, televisi merupakan media yang paling ampuh untuk mengusir rasa jenuh dan bosan. Kesibukan yang tiada henti membuat sebagian orang sulit untuk memperoleh hari libur, dan ketika ada sedikit waktu luang pilihan pun langsung tertuju untuk menonton televisi. Begitu banyak orang yang menonton televisi dan sukar untuk menghentikannya. Bagi sebagian orang mungkin terdapat istilah “hidup terasa hampa tanpa televisi”. Oleh karena itu mereka terus menyaksikan televisi sepanjang hari. Apakah andapun demikian?
Lukman Hagani (2003:33-34) memberikan gambaran ini kepada kita menurutnya, “Tidak dapat dipungkiri, televisi amat berarti dalam kehidupan masyarakat masa kini. Tak heran bila televisi nampak semakin dominan mewarnai kehidupan masyarakat di kota-kota besar, khususnya Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Semarang, dll. Dari hasil penelitian sebuah lembaga riset di Jakarta menunjukkan bahwa masyarakat kita menghabiskan 2,6 jam waktunya setiap hari untuk memelototi layar kaca. Kelompok pelajar yang berusia 10-19 tahun menghabiskan 3,1 jam perhari, disusul oleh ibu-ibu rumah tangga 2,8 jam sehari, dan karyawan 2,3 jam sehari. Di sini terlihat bahwa kelompok pelajar usia remajalah yang menghabiskan waktu paling banyak dalam mengonsumsi tayangan acara televisi.
Djokolelono, seorang penulis cerita anak-anak mengatakan, “Anak-anak dan remaja merupakan kelompok masyarakat yang paling kena getah buruk acara televisi. Dalam sebuah penelitan, ternyata anak-anak menonton hampir semua jam tayang televisi. Anak berumur 5-6 tahun yang menonton televisi di pagi hari berjumlah 10%, siang hari 19%, sore 20%, malam (prime time) 50%, malam setelah pukul 21.00 (late fringe) 16% dan akhir pekan 15 % (Sinar, 3/8/96). Belum lagi menyimak siaran global yang bisa disaksikan melalui antena parabola yang dibarengi oleh diberlakukannya kebijakan opensky policy, semakin memperkuat efek dari televisi terhadap anak-anak dan para remaja kita.
Celakanya, tayangan televisi-televisi yang beredar di seantero jagat raya ini, sebagian besar hanyalah sampah yang sangat berbahaya bagi perkembangan perilaku anak, seperti tayangan kekerasan, pola hidup konsumtif, santai menyia¬nyiakan waktu, serta mendewa-dewakan materi, dan sejumlah acara lain yang tidak memperhitung¬kan akibat buruknya bagi anak-anak. Maka tak ayal, televisi dituding menjadi salah satu penyebab terjadinya tawuran antar pelajar, tripping, ecstasy, pil koplo, perkosaan disertai tindak kekerasan yang marak belakangan ini.”
Ya, begitulah televisi. Tayangannya kebanyakan tidak membuat kita cerdas akan tetapi tetap saja dinikmati oleh banyak orang. Sadarkah kita bahwa mayoritas acara televisi itu sedang mencuci otak kita dan anak-anak kita? Jika diperhatikan dengan cermat, acara televisi pada saat ini tidaklah jauh dari takhayul, mistis, khurafat, perdukunan, serta kekerasan walaupun tampaknya dikemas secara Islami. Acara-acara televisi tampak selalu berlebihan dalam setiap alur ceritanya. Coba perhatikan judul-judul sinetron (sinema elektronik) yang dekat sekali dengan takhayul, khurafat dan khayalan tingkat tinggi seperti Kopiah Ajaib, Tas Ajaib, Kaos Kaki Ajaib dan masih banyak judul-judul ajaib lainnya. Dan hal ini merupakan persuasi (ajakan) kepada masyarakat untuk hidup serba instan dan melupakan kerja keras serta ikhtiar. Mereka lupa bahwa film adalah film dan itu sama sekali tidak nyata (walaupun katanya disadur dari kisah nyata namun pasti ada plot yang dibuat-buat alias bohong). Tayangan televisi di Indonesia memang sudah mencapai taraf yang memperihatinkan. Tidak peduli tua atau muda, selalu berduyun-duyun merelakan dirinya masing-masing menjadi korban televisi. Belum habis tayangan-tayangan takhayul dan mistis, agaknya gaya hidup hedonis, materialis, roman dan percintaan terlebih dulu akrab di pemirsa televisi, dan lucunya ketika sinetron horor sedang mewabah, sinetron bertema roman picisan pun berubah menjadi cerita horor. Hasil akhirnya adalah sinetron gado-gado “cinta-horor” yang menggelikan. Yang lebih tragis jalan cerita kebanyakan sinetron di Indonesia ini walaupun bertema pelajar dan anak sekolahan, ternyata sama sekali tidak menampilkan suasana kelas yang sedang belajar. Yang ada hanyalah pelajar-pelajar berambut gondrong, kesal berdiri sambil mengomel, beranting serta kancing terbuka, rok diatas lutut, berpakaian ketat serta perhiasan yang menonjol. Dan ini sama sekali bukan figur pelajar yang baik, akan tetapi ironisnya ditiru oleh kebanyakan palajar di dunia nyata. Profesi guru yang penuh wibawa dan dedikasi tinggi pun, di dalam sinetron, bisa disulap menjadi figur yang mudah dilecehkan, seperti guru yang gagap, berpacaran dengan muridnya, dan bloon. Sinetron-sinetron ini memang keterlaluan, siapa yang bertepuk tangan? Tentu saja bos-bos pemilik rumah produksi yang kebanyakan non-muslim. Dan ini menjadi bukti bahwa kebanyakan acara televisi di Indonesia adalah sampah belaka.
Media massa berfungsi sebagai media hiburan, media informasi, media edukasi/pendidikan, dan sebagai media dakwah. Bila kita bijak dalam menggunakan media massa ini, tentu banyak manfaat yang akan kita dapatkan. Bagaimana dengan para remaja kita? Selain anak-anak, remaja merupakan pihak yang rentan terkena dampak negatif dari pesatnya dunia informasi. Tanpa filter, remaja biasanya asal telan apa yang mereka lihat dan baca, tanpa tahu bahwa hal itu racun bagi mereka. Contohnya, kemajuan teknologi telepon genggam memberikan peluang bagi remaja untuk menyimpan gambar atau video berbau pornografi. Selain itu, banyaknya chanel televisi luar negeri yang masuk ke dalam negeri memberikan persuasi betapa nikmatnya budaya hidup hedonis. Begitu pula dengan jaringan internet, berlimpah informasi, berlimpah pula sampah yang bisa menggerogoti akhlak remaja kita. Media cetak pun tidak mau kalah berlari, mereka berlomba-lomba menampilkan gambar-gambar aduhai (minimal cerita murahan yang menjual syahwat) untuk memikat pembeli. Siapa bidikannya? Tidak lain adalah para remaja kita.
Kalau demikian halnya, apakah ada bukti tentang hal tersebut? Tentu banyak, bahkan sangat banyak. Media massa, baik televisi, koran ataupun majalah ternyata membawa banyak sekali polutan (racun). Supaya kita lebih cermat dalam menghadapi media hiburan mari kita simak penuturan Jerry. D. Gray, penulis buku American Shadow Goverment (Pemerintah Bayangan Amerika). Menurutnya kaum Yahudi di Amerika Serikat hanyalah minoritas (hanya 2% saja), akan tetapi walaupun demikian hampir seluruh media bisnis dan hiburan serta pemberitaan (98%) dikuasai oleh kaum Yahudi. Berikut ini media-media milik Yahudi baik surat kabar, majalah, ataupun televisi yang merupakan corong propagandanya :
1.                 Time Warner Inc (CBS, CNN, HBO, Warner Music, Warner Brothers Record, Inerscope Record, Warner Brothers Studio, Castle Rock Entertainment, New Line Cinema, Majalah Times, Sport Ilustrated People dan Fortune Magazine).
2.                 Walt Disney (Walt Disney Televisi, Touchstone Television dan Buena Vista Televisi).
3.                 Televisi ABC, ESPN, Life Time Television, The Art And Entertainment, Network Cable Companies, ABC Radio Network (memiliki 26 AM dan FM Stasiun), Capital Cities ABC (memiliki berita harian surat kabar yaitu Fairchild, Publication, Women’s Wear Daily dan Chilton Publication).
4.                 Viacom Inc. (Paramount Picture, Simon & Schuster, Schribner, The Free Press, Pocket Books, Showtime, MTV, dan Nickeldeon seperti serial kartun Dora, Diego, Spongebob, Avatar (Avatar artinya dewa turun ke bumi), dan lain-lain).
5.                 Seagram Company Ltd. (MCA, Universal Studios, Polygram). Sedangkan Polygram sendiri memiliki Deutche Gramophon, Deeca London, dan Philip Record Companies.
6.                 Rupert Murdoch’s News Corporation (The Fox Television Network, 20th Century Fox Films, Fox 2000, New York Post, Majalah TV Guide, New World Entertainment).
7.                 Warner Bross (WB), terutama melalui sutradara kondang Steven Spielberg.
8.                 Dan media massa yang lain seperti New York Time, The Washington Post, The Washington Post, Wall Street Journal dan lain-lain.













BAB III
MEREKA BERKATA TENTANG TELEVISI

Bila di rumah, tentu banyak sekali kasus yang terjadi akibat dari tayangan negatif televisi. Sebagai ilustrasi, silakan perhatikan anak-anak usia sekolah dewasa ini, tentu banyak kesamaan dengan model-model seragam sekolah ala selebritis. Rok mini nan ketat, aksesoris yang norak, perhiasan yang mencolok serta gaya berbicara yang dibuat-buat.
Dahsyat sekali pengaruh televisi. Dan apakah sudah berhenti sampai disana? ternyata tidak. Budaya perdukunan di masyarakat semakin marak akibat dari persuasi terus-menerus dari televisi. Praktek perdukunan yang secara tegas dilarang oleh agama Islam, semakin laris manis dalam masyarakat sekarang. Aneh sekali orang Indonesia ini, maksud hati ingin menjadi orang modern tapi tetap saja percaya kepada hal-hal yang berbau mistis, takhayul dan khurafat. Alam gaib memang ada, tapi bukanlah untuk diekploitasi habis-habisan di televisi. Setiap alam mempunyai aturannya masing-masing yang tidak boleh dilanggar seenak hati. Tayangan-tayangan yang demikian juga mendapat perhatian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam pidatonya beliau mengkritik acara-acara televisi yang beraroma mistis dan perdukunan, beliau mengatakan: “Tayangan-tayangan mistik yang berada di stasiun televisi Indonesia sangat berbahaya bagi generasi muda. Tayangan tersebut mengajarkan kepada generasi muda untuk mengambil jalan pintas (perdukunan) dan lupa berserah diri kepada Allah SWT. Tayangan-tayangan seperti ini sama berbahayanya dengan tayangan-tayangan yang menampilkan materialisme dan hedonisme yang lebih dulu marak di televisi nasional.” (Seputar Indonesia Sabtu, 2 Juni 2007 pukul 17.30-18.00 WIB).
Lain judul, lain pula akibatnya. Entah berapa banyak jumlah artis yang sedang dilanda kemelut dalam rumah tangganya diekspos habis-habisan oleh berbagai media. Lebih mengerikan lagi, konflik keluarga selebritis pun bisa menjadi kuis yang memikat banyak pemirsa. Seperti misalnya dalam sebuah tayangan gosip ada pertanyaan yang harus dijawab oleh pemirsa, “Siapa orang ketiga dibalik cerainya artis anu?”. Apa itu tidak keterlaluan? bukan hanya keterlaluan tapi sangat-sangat keterlaluan. Dan itu tidak hanya satu, masih banyak yang lain. Masih ingat kasus Smackdown? Smackdown merupakan tayangan gulat bebas yang berasal dari Amerika Serikat. Walaupun demikian Smackdown hanya trik dan bohong belaka. Tapi dampaknya sungguh luar biasa. Anak-anak SD sangat gandrung terhadap tayangan tersebut walaupun disiarkan pada malam hari. Adegan-adegan dalam Smackdown pun ditiru oleh mereka. Dan akibatnya korban pun berjatuhan. Harian Kompas memberitakan korban Smackdown yang bernama Muhammad Sigit (12 tahun) siswa kelas VI SDN 1 Sampiran Cirebon mengalami patah tangan dan kaki, perut dan pinggulnya pun terasa sangat sakit. Dan masih banyak korban lain yang sampai meninggal dunia. Seorang budayawan Cirebon Achmad Syubhanudin Alwy mengatakan bahwa dalam kasus ini pemerintah dan masyarakat bisa dibilang “kecolongan”. Artinya, sebenarnya akibat dari segala sesuatu sudah bisa diperkirakan. Namun tindakan baru diambil sesudah jatuh korban. “Respon yang sama mungkin akan terjadi kalau misalnya sejumlah pelajar tewas karena AIDS”, ujarnya. Oleh sebab itu lanjut AS. Alwy, kasus Smackdown bisa dilihat sebagai kegagalan sebuah bangsa dalam menyikapi berbagai hal.
Apalagi dalam banyak hal sebuah peristiwa besar hanya akan menjadi tren kemudian dilupakan ketika media massa sudah tidak membahasnya. “Kita ini bangsa yang mudah lupa”, tuturnya. Penghentian penayangan Smackdown juga sekedar tindakan pragmatis yang tidak akan berpengaruh banyak. Dalam hal ini, AS. Alwy memandang pentingnya alternatif penyaluran hasrat anak-anak untuk bermain. “Tentu saja ini berkait dengan bidang olahraga dan kesenian. Kita tahu di bidang ini mendapat perhatian yang sangat kecil dari pemerintah”, ujarnya. (Kompas Senin, 4 Desember 2006)
Dan tahukah anda bahwa salah seorang pegulat Smackdown mati bunuh diri setelah membunuh anak dan istrinya dengan cara membakar rumahnya sendiri? Mungkin dia sudah jenuh dengan apa yang diperankannya selama ini. Selain kasus-kasus di atas, tentu masih banyak kasus lain yang terjadi di bumi Indonesia ini. Ketika media massa sudah tidak membahasnya lagi, kita pun segera melupakannya. Seperti yang dikatakan oleh AS. Alwy “Kita ini bangsa yang mudah lupa”.

Berikut ini adalah sebagian surat pembaca yang dimuat dalam koran nasional yang mengkritsi dampak buruk televisi:
1.           Instant Culture
“Kita yang setiap hari di depan si kotak ajaib alias televisi pasti hafal dengan beragam tayangannya, dari ceramah agama, berita, hingga hiburan. Sayangnya banyak tayangan tidak mampu membuat kita cerdas. Tayangan televisi pun kental sekali dengan budaya pop. Kata orang pintar budaya pop adalah budaya yang ringan, menyenangkan, trendi dan cepat berganti.
Kritikus Lorraine Gamman dan Margaret Marshment, penyunting buku The Female Gaze: Woman as Viewers of Popular Culture (1998), bersepakat bahwa budaya populer adalah sebuah medan pergulatan ketika mengemukakan bahwa tidaklah cukup bagi kita untuk semata-mata menilai budaya populer sebagai budaya kapitalisme dan patriarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang.
Bagi mereka budaya populer juga tempat dipertaruhkannya makna dan digugatnya ideologi dominan. Celakanya dalam pertarungan tersebut siapapun bisa terlibat di dalam lingkarannya, termsuk kita. Perang ideologi tak bisa dihindarkan lagi, alias pasti bisa terjadi benturan. Lucunya kita acap kali merasa kalah dahulu sebelum bertarung melawan budaya tersebut.
Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, budaya populer yang sekarang sedang menjadi tren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital, logika proses produksi, bahwa hal-hal dangkal dan cepat ditangkaplah yang cepat laku. Ini sering dijumpai sebagai instant culture.
Anthony Giddens menyebutnya dunia yang sedang berlari, dan semua yang selalu berlari dalam satu trek lebih tinggi ini memang tidak mempunyai kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli.
Kita tak akan kaget jika ada pemirsa yang akhirnya bertindak nekat karena merasa benar dengan apa yang dinyatakan televisi. Dalam bahasa komunikasi ini dikenal sebagai efek spiral kebisuan. Artinya info yang salah sekalipun, jika ditayangkan berulang-ulang, bisa berubah menjadi benar.
Itu sebabnya, pakar komunikasi seperti McLuhan, yang juga penulis buku Understanding Media : The Extensive of  Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indra kita. Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.”
Anis Yunus (Kompas, 16 Juni 2006)

2.           Hiburan Televisi Merusak Moral
Acara hiburan di televisi kian marak, bahkan ada stasiun televisi yang “nonstop” menyuguhkan sederetan acara unggulan. Padahal belum tentu acara yang disuguhkan berdampak positif bagi para pemirsa. Contohnya adalah acara FTV/sinetron remaja. Memang acara ini terlihat sangat menarik karena sering diperankan para aktor yang “menjual”, film yang digemari anak muda itu juga ditayangkan dengan gambar dan warna yang menarik. Namun, siapa menyangka film yang terlihat menarik justru berdampak negatif bagi pemirsa/penikmatnya.
Dampak negatif dirasakan di sekitar tempat tinggal saya. Anak belia yang duduk di bangku SLTA terlalu “mencontoh” acara sinetron sehingga menjadi pembangkang dan melawan orangtuanya. Ia dengan ringan menjawab, “Di sinetron banyak kok anak yang membangkang justru mereka sosok yang pemberani”.
Sungguh menyedihkan moral generasi penerus pada zaman sekarang, lantas apakah masih layak acara-acara seperti itu ditayangkan televisi?
Yeshika Napitupulu
Jalan Bunut, Cipayung, Jakarta Timur
(Kompas, Minggu, 17 Desember 2006)

3.           Perilaku Negatif di Tayangan TV
Beberapa waktu yang lalu ada komunitas masyarakat yang hirau terhadap tayangan televisi (TV Watch). Memang selayaknya program-program TV mesti ada yang mengawasi, dan salah satunya oleh pemirsa itu sendiri. Saya turut menaruh harapan terhadap lembaga independen semacam TV Watch tersebut walaupun sejauh ini efektivitasnya belum kelihatan secara signifikan.
Stasiun TV lokal, nasional, internasional berbilang puluhan bahkan ratusan yang mudah diakses siapapun, seolah gelombang tsunami yang sulit kita bendung. Indonesia yang sekuler membantu berkembangbiaknya stasiun-stasiun TV dan rumah-rumah produksi, lalu melahirkan tayangan yang sekedar tontonan murah meriah aneka rasa, tanpa moralitas.
Saya berharap supaya TV Watch, memberikan teguran terhadap stasiun-stasiun TV, rumah-rumah produksi, baik daerah maupun nasional untuk menghilangkan tayangan perilaku negatif serta perbuatan dosa besar yang dilaknat Allah SWT.
Banyak sekali tayangan iklan, reality show, kuis, infotainment, dsb. yang dipandu presenter pria dengan gaya kemayu ala wanita, atau tayangan sinetron dan komedi situasi yang melulu menampilkan figur-figur pria berperilaku centil layaknya perempuan.
Bukan tidak mungkin gerak bahasa tubuh mereka ditiru anak laki-laki kita. Padahal mesti ingat sabda Rasulullah SAW : “Allah mengutuk wanita yang menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita,” (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Thabary). Dan “Allah mengutuk seorang wanita berpakaian laki-laki, dan laki-laki berpakaian wanita,” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah).
Sekalipun sekedar untuk konsumsi hiburan, sepatutnya figur-figur pria gemulai hilang dari tayangan TV kita, karena sangat tidak mendidik bagi anak laki-laki kita.
Diah Nurhayati
Jln. Adipati Agung 40 Blk.
RT 07 RW 17 Baleendah - Bandung 40375
(Pikiran Rakyat, Minggu 19 November 2006)

4.           Smack Down dan Etikalitas
Setelah menyadari dampak negatifnya, kalangan pemerintah dan swasta meminta agar Lativi menghentikan panayangan Smack Down.
Dampak sosial media elektronik tak terhindarkan. Smack Down, misalnya mendatangkan petaka. Smack Down telah menjadi applied science dalam zona pendidikan kita.
Penayangan teknik-teknik penundukkan teman berdimensi kekerasan ternyata merebut perhatian siswa. Agaknya, unsur kejantanan, kekerasan dan keganasan mendominasi sejumlah pelajar. Kepribadian remaja diekspresikan dalam bentuk mampu ber-Smack Down, tanpa memikirkan konsekuensinya.
Menggali Etikalitas Baru
Etiskah media massa menayangkan Smack Down? Etikalitas media (termasuk media elektronik) perlu digali dari segi perspektif multikultural, multi moral dan multisituasional. Dengan demikian, dimensi ini tidak hanya bertitik tolak dari sudut pandang monodimensi. Unsur multikultular tidak hanya dalam arti topografi belaka, tetapi terkait dimensi interdisipliner dan interdoktrinal. Dunia sebagai suatu kemajemukan terbuka.
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah menimbulkan lebih banyak masalah, sosial, politik, kultural dan moral dalam dunia media massa. Jantung dunia komunikasi yang pernah dibatasi secara paradoks mulai ditinggalkan banyak pihak. Seakan-akan dunia komunikasi tak mengenal batas dalam ruang gerak mereka. Padahal, dunia komunikasi acapkali dimanfaatkan oleh pelbagai kepentingan terselubung.
Masalahnya, bagaimanakah kita sanggup lebih meng-etis-kan media massa kita (tulisan dan elektronik)? Sebagai makhluk etis komunikator tak mungkin memisahkan dunia komunikasi dengan nilai-nilai etis di dalamnya.
Etikalitas baru dalam dunia media massa tentang Smack Down adalah tetangga kita. Maksudnya, dunia ini ada bersama dengan yang lain dan menghormati siapa pun yang berhubungan dengan dunia ini.
Etisitas ini adalah eukoinoonia (hidup bersama yang baik). Jadi, etisitas tak lain adalah istilah yang digunakan untuk memberikan suatu dimensi antropologis kepada salah satu kategori pengertian hubungan (Antonio Pasquali, The Moral Dimension of Comunicating, 1997, 24-25).
Etikalitas ini menekankan dimensi antropologis yang terkait sesama manusia. Komunikasi dipandang sebagai keadaan berkodrat rohani, prestasi fundamental dari  suatu nexus moral. Etikalitas ini bukan hanya ditemukan dalam disposisi personal, tetapi juga berhubungan dengan komunitas yang memberi ruang gerak bagi hubungan antar pribadi.
Pembinaan Pribadi
Larangan menonton atau menayangkan film tertentu belum pasti bisa langsung menjamin etisitas hidup kaum pelajar. Dalam era globalisasi, bagaimana mungkin melarang net-generation untuk menikmati isi komunikasi melalui intenet? Bukankah pada dasarnya hidup manusia pada dasarnya sebuah film atau sandiwara buah lakonan manusia yang sedang ditonton masyarakat ramai? Efektifkah larangan menonton Smack Down dalam proses pengurangan kadar kriminalitas kaum pelajar?
Metode pendekatan etis-indikatif akan lebih efektif dalam proses menularkan nilai-nilai etis melalui dunia media. Pergeseran paradigma etis-imperatif kepada paradigma etis-indikatif memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi anak-anak manusia untuk menggunakan akal sehat dan nurani dalam mengambil keputusan dan melakukan suatu tindakan secara bertanggung jawab.
Dimensi etis dunia media massa menawarkan virtue (keutamaan) yang perlu diinternalisasi dan vice (kebejatan) yang perlu dihindari.
Di balik semuanya, rahasia pembinaan nurani kaum pelajar perlu dimasukan dalam program pembinaan kepribadian anak didik. Kasus Smack Down perlu dikaji dari perspketif nurani yang benar dan kontkes sosial hidup manusia. Sedangkan apa yang tersembunyi di balik Smack Down? Instansi terkait, orang tua, pendidik, dunia akademik dipanggil untuk menganalisis dan mencermati Smack Down. Mengapa dipertontonkan? Sikap apakah yang semestinya diambil dalam menghadapi kenyataan ini? Nilai-nilai apakah yang akan ditanamkan dalam nurani manusia? Kelemahan mentalitas kepribadian membuat manusia tidak sadar mengikuti apa saja yang ditampilkan dalam Smack Down.
Aneh, Smack Down dan tayangan sejenis dilarang, sedangkan film-film lain yang dianggap bisa merobohkan iman-kepercayaan dan hidup moral anak-anak bangsa kadang dibiarkan mengalir di tanah air. Mengapa?
Tempalah nurani anak manusia yang jujur, bersih, dan kuat sehingga memiliki etikalitas dalam menyikapi suguhan-suguhan media.
Kemampuan ber-discernment amat diperlukan!
William Chang
Pemerhati Masalah-Masalah Sosial
(Kompas, Senin, 4 Desember 2006)

5.           Tayangan Televisi Setelah Ramadhan
Tayangan media televisi menjadi warna tersendiri selama bulan Ramadhan lalu. Seolah ingin berlomba dalam kebajikan para pengelola stasiun televisi beramai-ramai menayangkan program-program yang bernuansa keagamaan. Memang sebelum memasuki bulan Ramadhan pun, tayangan yang bernuansa agama telah menjadi tren di hampir semua stasiun televisi swasta. Namun, ketika memasuki bulan suci itu, porsi tayangan bernuansa keagamaan lebih meningkat lagi.
Wajar-wajar saja jika tayangan bernuansa agama menjadi bertambah banyak di bulan Ramadhan. Sebab, bagaimanapun bisnis media adalah bisnis yang selalu mengikuti hukum pasar. Ketika kebutuhan masyarakat terhadap suatu produk meningkat, ketersediaan akan produk tersebut selalu mengikuti. Pengelolaan media selalu memeprtimbangkan faktor yang disebut uses and gratification. Bahwa apa saja yang dibutuhkan masyarakat juga akan dipikirkan media.
Bisnis media tidak seperti bisnis komoditas, seperti di pasar-pasar tradisional atau pasar modern. Bisnis media adalah sebuah bisnis yang didalamnya harus disertai dengan rasa tanggung jawab terhadap produk yang dijualnya. Ada konskuensi yang harus ditanggung atas produk yang dibuat dan ditayangkan media, dari hanya kepentingan sebuah pasar.
Sebuah produk tayangan yang dihasilkan oleh media dan kemudian ditayangkannya kepada masyarakat akan menjadi sebuah panutan yang sangat penting kemudian dijadikan nilai-nilai tertentu oleh mayarakat. Artinya, dalam membuat sebuah program (televisi), seorang produser tidak hanya berpatokan pada hukum pasar, yaitu ketika kebutuhan meningkat, akan diikuti oleh penyediaan produk. Ada hal-hal lain yang harus menjadi bahan pertimbangan mendasar dari si pembuat program.
Setelah produk itu “dibeli” (artinya ditonton) oleh khalayak, rantai bisnis media tidak berhenti sampai disitu. Tayangan “kue program” yang dijual media televisi akan memiliki pengaruh besar bagi penontonnya, bisa jadi pengaruh itu bersifat positif dan tidak jarang pula justru menimbulkan efek negatif.
Efek Versus Dampak
Bagaimana sebuah tayangan televisi dikatakan memiliki dampak negatif bagi pemirsanya? Yaitu, ketika tayangan itu menimbulkan perubahan ke arah yang tidak menguntungkan bagi khalayaknya. Oleh karena itu, dalam kaitan dengan pengaruh media massa, para ahli membedakan antara kata efek dan dampak. Efek adalah pengaruh langsung yang diakibatkan oleh terpaan media. Adapun dampak adalah efek yang menimbulkan akibat efek. Dampak tidak dirasakan secara langsung tetapi melalui sebuah jangka panjang. Di sana ada proses interprestasi (pemaknaan sebuah pesan komunikasi) yang diterima oleh khalayak ketika berlangsung proses interprestasi inilah, kemungkinan besar sikap dan perilaku khalayak akan terpengaruh.
Dengan nilai inilah yang dimiliki media televisi, yaitu gambar (visual) pesan-pesan komunikasi mungkin akan diterjemahkan berbeda oleh berbagai khalayak yang menontonnya. Latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi, dan status sosial khalayak akan sangat berpengaruh dalam menerjemahkan sebuah pesan komunikasi. Karena sering kali televisi menyajikan gambar hidup yang diangkat dari sebab realitas sosial, pemirsa akan mengkonsumsi, apa yang dilihatnya di layar kaca merupakan sebuah kenyataan dalam kehidupannya sehari-hari.
Padahal, menurut para ahli komunikasi, apa yang disajikan media merupakan sebuah second reality (realitas tangan kedua atau bukan realitas yang sesungguhnya). Sebelum ditayangkan di televisi, sebuah pesan harus terlebih dahulu harus melewati beberapa “tangan”. Ada sutradara yang membuat cerita, ada kamerawan yang menerjemahkan gambar, ada sejumlah tangan-tangan lainnya yang turut andil dalam melahirkan sebuah program televisi.
Sementara dari sisi penonton, sedikit sekali diantara mereka yang menyadari hal itu. Ketika sebuah pesan menyampaikan makna tertentu lewat tayangannya, khalayak akan mencerna makna pesan tersampaikan. Mereka tidak pernah ikut memikirkan bahwa sebenarnya ada proses yang sangat panjang di balik itu semua. Sementara dari pihak media sendiri, hampir pernah tidak ada penjelasan kepada khalayak tentang proses panjang terjadinya sebuah tayangan di media (televisi).
Tentang hal ini, saya jadi teringat pada sebuah tradisi yang dilakukan seorang pemain film laga dari Hongkong yaitu Jackie Chan. Hampir semua film yang dibintanginya oleh Jackie Chan selalu diselipi adegan di balik layar di setiap akhir tayangan tersebut. Kebiasaan ini tentu bukan tanpa maksud karena dengan memperlihatkan potongan-potongan adegan yang salah di film tersebut, setidaknya akan turut membantu para penonton untuk bisa segera keluar dari alur cerita yang sejak awal ditontonnya. Lewat potongan adegan behind the scene itu, Jackie Chan sesungguhnya telah memberikan sebuah proses pembelajaran amat berharga bagi penontonnya. Bahwa adegan tembak menembak dan baku hantam sampai berdarah-darah yang baru saja disaksikan khalayak hanyalah sebuah kisah fiktif yang jauh dari kisah yang sebenarnya.
Tayangan Fiktif
Lalu, bagaimana dengan para sineas atau produser televisi di negara kita? Rasa-rasanya belum sampai ke arah sana. Bahkan mereka akan merasa bangga jika tayangan cerita fiktif yang dibuatnya kemudian menjadi perbincangan di mana-mana, misalnya di kantor-kantor, di tempat kerja, dan di tempat-tempat arisan ibu-ibu. Padahal ketika khalayak membicarakan tayangan tadi, sesungguhnya mereka sudah tidak lagi berada di dunia fiktif seperti tayangan yang ditontonnya.
Lebih celaka lagi, jika kemudian pesan-pesan yang memiliki makna itu langsung diikuti atau dituruti khalayak yang belum memiliki kemampuan menyeleksi pesan-pesan komunikasi lewat media massa. Ada khalayak yang tidak mampu membedakan antara sebuah realitas semu yang ditayangkan televisi dan realitas sesungguhnya. Contoh paling konkret untuk khalayak jenis ini adalah anak-anak. Mereka belum mampu menyeleksi dan bahkan membedakan antara dunia televisi yang penuh dengan kisah fiktif dan dunia nyata yang sebenarnya.                                  
Kembali ke tayangan media televisi yang begitu semarak di bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati. Karena menyesuaikan dengan situasi, hampir semua tayangan televisi di bulan Ramadhan memberikan pesan-pesan moral yang bercerita tentang nilai-nilai yang sebuah kebaikan budi dan akibat buruk dari perbuatan tidak terpuji. Intinya tayangan-tayangan televisi di bulan suci Ramadhan memang telah memberikan pesan-pesan moral tentang nilai-nilai kebaikan. Hampir tidak ada tayangan di bulan Ramadhan yang menjurus ke hal-hal yang memberikan pesan moral tidak baik, seperti erotisme dan pornografi.
Semoga saja, tradisi ini bisa terus dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya di luar bulan Ramadhan. Sebab di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan, nilai-nilai kebaikan harus tetap disampaikan.
Bukankah para ulama juga mengatakan, bulan Ramadhan ini hanyalah bentuk dari ujian kecil karena ujian besar sesungguhnya ada pada 11 bulan berikutnya.
Dede Mulkan
Dosen Jurusan Jurnalistik,
Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Padjadjaran
(KOMPAS, Senin, 30 Oktober 2006)

6.           Belum Gunakan Perasaan Pemirsa
Program tayangan televisi di Indonesia saat ini banyak menyuguhkan tema tayangan yang sangat membodohkan publik. Misalnya program Smack Down, sinetron yang diwarnai kekerasan konflik keluarga, acara komedi yang menyuguhkan kata dan gerakan kasar serta program tayangan malam hari yang sekedar menunjukan paha wanita.
Kondisi tersebut menunjukan adanya prinsip perasaan. Artinya, pengelola TV dalam menyajikan acara tidak banyak menggunakan perasaan pemirsa. Yang penting program acara didapat dengan harga murah dan bisa menyedot banyak penonton.
Lalu mengapa pencegahan seperti logo himbauan seperti DW (Dewasa) dan BO (Bimbingan Orangtua) tidak efektif? Upaya pembatasan usia untuk program tertentu menjadi tidak efektif karena kesadaran media belum banyak dibangun di kalangan keluarga. Kesadaran media bisa dibentuk lewat pembicaraan atau diskusi antar anggota keluarga mengenai acara televisi yang patut atau tidak patut dilihat.
Contohnya pemirsa di Amerika, acara Smackdown yang ditayangkan di televisi sampai sekarang tidak menjadi masalah. Itu disebabkan karena di Amerika kesadaran media selain dibangun di lingkungan keluarga, juga diajarkan dalam dunia pendidikan.
Pada akhirnya agar stasiun televisi memberikan suguhan acaranya yang bermutu dan sehat, maka peranan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai lembaga independen yang memiliki hak memberikan tatanan bagi pengelola televisi perlu dimaksimalkan.
Untuk itu pemerintah hendaknya tidak perlu mengganggu KPI seperti ikut mengatur atau campur tangan terhadap semua tindakan yang perlu dilakukan KPI.
(Seputar Indonesia, Minggu, 3 Desember 2006)

7.           Memaksimalkan Peran KPI
Meski dampaknya sudah sangat terasa, pemerintah lewat Depkominfo maupun KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) selaku pihak yang memiliki wewenang terhadap siaran televisi belum mampu menghadang laju program-program yang berdampak mengkhawatirkan tersebut. Berkali-kali protes masyarakat dilancarkan, namun berkali-kali juga tayangan berbau kekerasan tetap ditayangkan.
Stasiun-stasiun televisi seolah sudah kebal alias sudah tidak lagi tanggap atas bahaya dibalik siaran-siaran mereka. Tayangan kekerasan hadir tak kenal situasi. Hal ini kemudian menorehkan kesan dari masyarakat bahwa usaha-usaha pihak-pihak terkait, khususnya KPI dalam membentengi dampak televisi dinilai belum maksimal. Setiap teguran ataupun peringatan terhadap pelanggaran isi siaran yang ditayangkan oleh KPI masih belum efektif mendesak stasiun televisi untuk memperbaiki isi siarannya.
Dalam kondisi serba buntu ini, pihak yang paling dirugikan tentu saja adalah masyarakat. Mereka menjadi rentan terhadap pengaruh buruk isi siaran. Apalagi, televisi hadir di ruang keluarga yang bisa disaksikan didengar oleh semua orang. Dampak pesan yang dipublikasikan ini tentu saja akan berbeda-beda pada masing-masing penerima pesan.
Pihak yang paling dikhawatirkan terkena efek negatif tersebut tentu saja anak-anak. Rasa ingin tahu anak-anak yang sangat besar serta pengetahuan yang minim, membuat potensi mereka untuk dipengaruhi tayangan televisi sangat besar. Melalui tayangan itu, anak-anak dengan mudahnya diterpa rekonstruksi adegan-adegan kekerasan yang lambat laun membuat mereka jadi terbiasa dengan adegan kekerasan.
Orangtua juga seakan kalah pamor dengan televisi dalam memberikan pengaruhnya. Tak dapat dipungkiri kalau upaya orangtua untuk memberi pengertian pada anak-anak seringkali gagal. Seketat-ketatnya pengawasan orang tua, tetap ada celah bagi anak untuk mencoba mencari tahu. Apalagi ada kalangan anak lepas dari orang tua, semisal di sekolah atau jam-jam kursus. Pada saat itulah, anak punya kesempatan untuk mencari apa yang dia inginkan bersama teman-temannya.
Prihatin dengan kondisi ini, masyarakat sangat berharap agar pemerintah bersama KPI bisa menunjukkan taringnya dalam menindak stasiun televisi yang bandel. KPI diharapkan mampu berfungsi sebagai badan kontrol siaran yang ditayangkan oleh stasiun televisi dan radio.
KPI sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pedoman tersebut menjelaskan tentang mana yang boleh dan tidak boleh dipublikasikan. Bagi TV yang melanggar P3SPS akan dikenakan sanksi yang tahap awalnya adalah berupa teguran tertulis. Jika teguran tertulis sudah tidak ampuh lagi, maka giliran sanksi administratif lainnya yang dilayangkan seperti penghentikan siaran dan serta pembatasan waktu siaran. Bahkan kalau perlu dilakukan pencabutan izin siaran. Untuk menambah efek jera, masyarakat menganggap perlu memberikan sanksi pidana.
Demi memantapkan langkah ini, KPI bisa bekerja sama dengan Mabes POLRI. Hal ini perlu diperhatikan sebagai upaya untuk mencegah kerusakan mental bagi generasi yang akan datang. Sesuatu yang nilainya tidak bisa diukur dengan apapun. Apalagi mengingat dewasa ini perkembangan siaran televisi sebagai alat komunikasi dan hiburan sangat pesat sehingga begitu besar pula dampak dari siaran yang ditayangkan.
(Seputar Indonesia, Minggu, 3 Desember 2006)

8.           Nonton TV Berlebihan Akibatkan Kadar Kolesterol Meningkat
Para peneliti dari Universitas California mengatakan bahwa kebiasaan menonton TV secara berlebihan, khususnya pada anak-anak akan berakibat meningkatnya kadar kolesterol (hiperlipidemi). Hal itu disebabkan kurangnya olahraga dan makan yang tidak teratur, demikian hasil studi yang dipaparkan lewat jurnal Pediatrics baru-baru ini. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa mereka yang gemar nonton televisi dari keluarga yang mengidap penyakit jantung atau kolesterol lebih mudah terserang kadar kolesterol tinggi.
Penelitian yang dilakukan terhadap 1.057 anak usia dini sampai 20 tahun ditemukan bahwa delapan persen dari jumlah tersebut mengidap kolesterol berkadar 200 mg atau lebih. Padahal kadar tersebut terlalu tinggi bagi orang dewasa. Lima puluh tiga persen dari jumlah responden mengatakan bahwa mereka menonton televisi selama dua jam atau lebih setiap harinya. Menurut para peneliti anak-anak akan menderita kelebihan kolesterol dua kali lebih tinggi bila mereka menonton dua sampai empat jam setiap hari dan akan meningkat empat kali lipat bila lebih dari empat jam per hari. Kadar kolesterol tersebut akan berkurang jika diimbangi dengan makan daging tak berlemak, olah raga serta makan teratur.
Menurut hasil penelitian Dr. Donald Helstad dari Universitas IOWA yang disajikan pada suatu acara konferensi penelitian stroke yang baru-baru ini diselenggarakan oleh sebuah asosiasi jantung di Amerika, menunjukkan bahwa kadar kolesterol tinggi akan menyebabkan kejang-kejang pada otot serta sewaktu-waktu dapat menghentikan aliran darah ke jaringan otak. “Setiap orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi cenderung mempuinyai resiko tinggi pula terserang stroke atau serangan jantung,” kata Helstad, “karena kadar kolesterol tinggi akan menyebabkan timbunan lemak pada aliran darah yang mengakibatkan pembekuan.”
Sekitar 60 juta penduduk Amerika Serikat diperkirakan menderita gejala kadar kolesterol tinggi yang mengharuskan mereka memperoleh perawatan. Diet merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengadakan penyembuhan penyakit tersebut, walaupun kebanyakan pasien lebih senang menggunakan obat penurun kolesterol, demikian kata peneliti.
(Majalah Pendidikan Suara Daerah No. 257 Bulan Agustus 1992)

9.           Iklan Televisi dan Eksploitasi Anak
Deni adalah seorang anak berusia kurang dari tujuh tahun. Menonton televisi adalah salah satu hobinya. Akibat salah satu hobinya ini, tentu saja dia merengek ibu bapaknya untuk membelikan apa-apa yang berupa mainan dan makanan sebagaimana iklan yang ditayangkan di televisi. Perasaan kasih sayang terhadap anaknya mengalahkan segalanya. Maka, sebagian besar permohonan anaknya dipenuhi.
Ini hanyalah salah satu contoh kasus bagaimana sikap dan gaya seseorang sangat mudah dipengaruhi iklan di televisi. Masih berderet panjang kasus lain bagaimana dampak negatif iklan televisi terhadap perilaku serta pola konsumtif. Para remaja putri begitu tergila-gila terhadap kaus oto-ono yang dipakai Desy Ratnasari dan produk Kassandra. Ibu-ibu lain lebih sibuk dengan alat-alat yang lebih modern. Dan barang tentu, demi gengsi, dia membelikan pakaian, makanan, serta mainan anaknya seperti dalam iklan tanpa memperhitungkan lagi nilai ekonomis, statis, bahkan pedagogis.
Menurut Novel Ali, Dosen Undip dan Ketua Lembaga Perlindungan dan Pembinaan Konsumen (LPKK), yang meneliti dampak iklan televisi, “Iklan TV telah menjebak anak-anak untuk berpola konsumtif tak rasional”.
Lebih dari itu, Psikolog Deidre Raby mengatakan, “Sekarang beragam mainan telah hadir di TV dalam jumlah di luar perhitungan. Anak-anak menjadi korbannya.”  Menurutnya, TV dan media cetak berperan besar dalam melahirkan anak menjadi “monster”. Karena itu, dia menggugat bahwa iklan mainan itu tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Kebanyakan mainan, tambahnya, mendapat promosi yang berlebih-lebihan dan menjadi tak sebagus kenyataannya.
Betapa mudah jika kita mencari buku film yang mendorong pola konsumtif anak tanpa mempedulikan manfaat dan fungsinya. Doraemon, Ksatria Baja Hitam, Ular Putih, Jiban, Power Rangers, misalnya. Film-film yang berdurasi 30 menit itu masih saja rata-rata dipenuhi iklan sebanyak 18 buah. Wah-wah, iklan-iklan tersebut ditawarkan untuk merebut hati anak-anak meskipun belum tentu sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dampak dari iklan itu segera tampak. Seorang ibu misalnya, mengeluh anaknya yang tidak berselera dan kehilangan nafsu makan disebabkan oleh banyaknya jajan nyamikan (makanan ringan) yang diiklankan televisi. Akan tetapi yang lebih buruk dari itu adalah terdapatnya pelanggaran kode etik periklanan, anak-anak dilarang menjadi model iklan produk-produk orang dewasa, seperti iklan kopi, pewangi dan mobil.
Sebenarnya bukan hanya melanggar kode etik periklanan, melainkan juga melanggar Rancangan UU Tenaga Kerja yang tidak boleh mengaryakan orang dibawah usia 15 tahun. Karena itu, banyak pakar yang lantang bersuara, bahwa memperkerjakan anak sebagai model merupakan tindakan eksploitasi yang tidak bisa dibiarkan.
Benar, dari keringatnya, para model iklan itu mendapat bayaran yang melebihi 20 kali lipat gaji guru. Sandika Widartiana, misalnya, yang menjadi model iklan berbagai produk, dari sepatu hingga obat batuk, bisa mengantungi 10 juta rupiah. Hebat, bisa terbang!. Akan tetapi, efek negatifnya, menurut beberapa pengamat syuting yang mestinya dilakukan beberapa kali, meskipun hanya untuk iklan setengah menit, akan memperburuk kesehatan anak.
Lalu, bagaimana dengan tanggapan televisi swasta yang selama ini menikmati dan menangguk rejeki dari iklan itu? Memang stasiun televisi swasta masih berupaya bersikap toleran. Misalnya, tidak menayangkan iklan yang memang diprotes masyarakat walaupun mereka rugi. Mengenai iklan yang merusak pola konsumtif anak, Budi Darmawan dari SCTV menyatakan bahwa pola konsumtif itu bukan hanya anak-anak dan bukan semata-mata karena iklan. “Jadi jangan salahkan iklannya, dong,” katanya.
Akhirnya, memang, kembali kepada pribadi kita masing-masing. Hanya, selaku orang tua, kita patut mengikuti petunjuk stasiun TV untuk selalu mendampingi putra-putri kita dalam menonton televisi. Tentu saja, sambil memberi pengertian kepada mereka.
Koko Koswara
Penulis, pecinta masalah anak-anak,
Guru SD Manggungjaya I
Rajapolah, 46155 – Tasikmalaya
(Majalah Pendidikan Suara Daerah No.305 Agustus 1996)            
10.       Tayangan Televisi Tak Mencerdaskan
Yogyakarta, Kompas-Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono menyayangkan banyak tayangan film dan sinetron televisi tidak mencerdaskan kaum perempuan. Sebaliknya, justru mengajarkan kejudesan dan kejahatan.
“Kita ini perlu masukan dan bersama-sama membangun sumber daya manusia yang cerdas dan penuh kasih sayang. Namun, film dan sinetron yang banyak ditonton perempuan, ibu-ibu, dan anak-anak justru mengajarkan kepada anak bangsa ini kejahatan, kejudesan, dan perilaku licik. Kenapa kita menghasilkan film-film dan sinetron seperti itu dan kenapa kita melihatnya,” ungkap Meutia seusai membuka Workshop regional “Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Pemberdayaan Perempuan”, Senin (20/8) di Yogyakarta.
Meutia menyebutkan, banyak tayangan sinetron yang justru membodohi penonton dan tidak memberdayakan perempuan. Dia mencontohkan sinetron agama yang menyajikan cerita dan adegan yang tidak masuk akal. Banyak sinetron mengumbar adegan kekerasan pada perempuan. Meutia mengatakan, tanpa disadari sutradara ataupun rumah produksi, ada tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) yang sengaja ingin merusak bangsa ini.
Menurut Menteri, pihaknya sebenarnya pernah bertemu untuk membicarakan persoalan cerita sinetron dengan para sutradara, rumah produksi, produser, dan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia, serta tokoh-tokoh pertelevisian, tetapi sampai saat ini ternyata tak ada perbaikan. “Padahal, waktu itu mereka berkomitmen melakukan self correction,” katanya.
(Kompas, Selasa, 21 Agustus 2007)

11.       Kotak Ajaib Yang Memprihatinkan
Meski sudah dikhawatirkan sejak lama, dampak negatif televisi seolah tak kuasa untuk dihadang. Korban tayangan kotak ajaib ini terus berjatuhan. Bagaimana seharusnya penindakkan terhadap stasiun televisi? Simak kata masyarakat.
Sungguh malang nasib Reza Ikhsan Fadilah. Bocah berusia 9 tahun ini tak bisa lagi melihat indahnya dunia. Reza menghembuskan nafas terakhir setelah sakit seusai bermain gulat bersama tiga temannya. Ironisnya permainan gulat tersebut merupakan hasil peniruan Reza dan kawan-kawan dari acara televisi Smack Down.
Bukan hanya Reza yang jadi korban. Akhir November lalu, seorang siswa SDN Babakan Surabaya VII, Ahmad Firdaus, 9, pingsan setelah di Smack Down teman sebayanya. Ahmad dilarikan ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) karena menderita sakit di bagian kepala dan selangkangannya.
Setelah kejadian ini masyarakat beramai-ramai mengajukan protes kepada stasiun televisi  swasta bersangkutan untuk menghentikan tayangan tersebut. Mereka yang sehari-hari terbiasa menonton tayangan televisi tanpa protes sama sekali seolah mulai tersadar adanya bahaya yang mengancam.
Faktanya, tayangan televisi saat ini memang mengalami perubahan yang sangat besar. Kalau dulu tayangan televisi masih tergolong santun, kini kesantunan itu mulai meluntur. Tayangan sekarang dinilai sudah sangat memprihatinkan. Jajak pendapat SINDO terhadap 500 responden pada 29 November-1 Desember 2006 menggambarkan kata sepakat masyarakat bahwa tayangan televisi sudah pada level memperihatinkan.
Adegan baku hantam, caci memaki, sihir, perselingkuhan hampir menghiasi seluruh program di layar kaca. Dampaknya ke pemirsa juga sama dahsyatnya dengan terpaan media yang diluncurkan. Angka kriminalitas meningkat, kasus pemerkosaan mencuat dan gejala mistis pun menyeruak. Dan kalau dahulu banyak yang takut melihat pertumpahan darah, dengan terpaan media secara terus-menerus, darah dan kekerasan sekarang menjadi hal yang lazim.
Tak mengherankan memang, setiap hari stasiun-stasiun televisi menayangkan adegan kekerasan baik dalam bentuk berita, sinetron maupun film-film lepas dengan durasi sedikitnya 30 menit. Dilihat dari jam tayangnya, sebagian besar program tersebut menempati waktu-waktu prime time yaitu rentang waktu dimana jumlah penonton televisi mencapai puncaknya.
Ironisnya rating program televisi yang memperlihatkan adegan kekerasan justru mendapat primadona dengan menempati rating teratas program yang paling banyak ditonton khalayak. Mencermati fenomena ini, kondisi industri pertelevisian di Indonesia telah memperbesar kemungkinan berlakunya efek media pada masyarakat.
Harapan agar pihak media mau mengurangi tayangan bertema kekerasan di televisi jelas menjadi hal yang sia-sia. Karena hal itu pastinya akan mempengaruhi keuntungan yang bisa dikeruk.
Televisi swasta merupakan lembaga penyiaran yang berwatak industri. Perkembangan pers sebagai industri, membuat pertimbangan komersial dikedepankan yang pada akhirnya membuat dampak buruk tayangan terhadap masyarakat tidak terlalu dihiraukan. Sukses televisi diukur dengan rating dan perolehan iklan. Sementara idealisme dan pertanggungjawaban sosial ditempatkan di urutan ke sekian.
Padahal kasus-kasus kekerasan yang muncul akibat dampak media seharusnya bisa menyadarkan para pemilik modal, bahwa media massa bukan sekedar tempat untuk mengeruk keuntungan komersial. Media massa bukan hanya penyaji informasi dan hiburan. Melainkan juga sebagai sarana pendidikan dan alat kontrol sosial.
Selama ini, pihak stasiun televisi acap kali berdalih bahwa pihaknya sudah cukup bertindak etis dengan memasang logo PG (Parental Guide, D: Dewasa, BO: Bimbingan Orangtua, SU: Semua Umur) bertuliskan pembatasan usia penonton pada acara dewasa di setiap penayangan acara. Harapannya, pemirsa bisa mengonsumsi tayangan sesuai dengan kondisinya.
Namun masyarakat sendiri menilai bahwa sistem tersebut tidak efektif. Banyak pemirsa yang mengabaikan keberadaan logo tersebut. Orangtua juga tidak serta merta melakukan pengawasan pada anak-anak mereka dalam mengonsumsi acara televisi.
Sistem pencantuman logo, pihak stasiun televisi juga melakukan pembelaan yang seakan rasional yaitu dengan menayangkan acara berlogo dewasa di atas pukul 21.00 WIB. Dengan asumsi, waktu tersebut tidak bisa terjangkau anak-anak. Namun lagi-lagi, pengaturan jam tayang ini juga dianggap tidak efektif karena anak tetap memiliki kesempatan untuk mencuri-curi waktu. Unsur pengawasan inilah yang sering kali menjadi titik lemah orang tua, terutama yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari di kantor.

PROFIL RESPONDEN
Persentase
Usia
17-25
27 %

26-30
11 %

31-35
15 %

36-40
20 %

41-45
8 %

46-50
7 %

> 50
12 %
Jenis Kelamin
Laki-laki
36 %

Perempuan
64 %
Pendidikan
SMU
62 %

Diploma
11 %

S1
25 %

S1/S2
2 %
Pekerjaan
Ibu rumah tangga
30 %

Pegawai negeri
5 %

Pegawai swasta
13 %

Wiraswasta
13 %

Mahasiswa
5 %

Belum bekerja
16 %

Pensiunan
6 %

Lainnya
12 %
Penghasilan
<1 Juta
23 %

1-2 juta
51 %

2-3 juta
20 %

3-4 juta
4 %

>5 juta
2 %
Jejak pendapat ini diselenggarakan oleh Litbang Harian Seputar Indonesia.
<  Waktu penelitian : 29 November-1 Desember 2006.
<  Metode pengumpulan data : Wawancara via telepon.
<  Responden : 500 orang yang dipilih secara random. Responden berdomisili di 5 kota (Jakarta, Surabaya, Denpasar, Bandung  & Medan).
<  Tingkat kepercayaan : 95 %.
<  Sampling error penelitian : +/- 4,3% namun  kesalahan  non sampling error  tetap dimungkinkan  terjadi.
 (Sumber: Seputar Indonesia, Minggu, 3 Desember 2006)

Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa usia remaja adalah pihak yang paling banyak mengonsumsi acara televisi. Pada rentang usia 17-25 tahun sebanyak 27% terbiasa menonton televisi. Ini artinya persentase pada usia17-25 tahun paling tinggi dibandingkan dengan rentang usia lain, yaitu: rentang usia 26-30 tahun sebanyak 11%, rentang usia 31-35 tahun sebanyak 15%, rentang usia 36-40 tahun sebanyak 20%, rentang usia 41-45 tahun sebanyak 8%, rentang usia 4-50 tahun sebanyak 7%, dan rentang usia >50 tahu sebanyak 12%. Sedangkan dari segi jenis kelamin, perempuan mendominasi dalam hal menonton televisi yaitu sebanyak 64%. Laki-laki hanya sebanyak 36%. Dari segi pendidikan, usia remaja (yaitu SMU) mengonsumsi acara televisi sebanyak 62%. Konsumsi acara televisi oleh pelajar SMU jauh di atas konsumsi tingkat pendidikan lain, yaitu Diploma sebanyak 11%, S-1 sebanyak 25%, dan S-1/S-2 sebanyak 2%. Angka-angka tinggi pada usia remaja tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa usia remaja sangat rentan dari polusi negatif media massa.





BAB IV
SOLUSI ALTERNATIF

A.                 Apakah Anda Kecanduan Menonton TV?
Sebelum kita membahas solusi alternatif untuk penanggulangan dampak negatif televisi, ada baiknya kita mengkuti sebuah kuis untuk mengukur tingkat kecanduan menonton televisi yang dimuat dalam majalah Smart Kids Edisi 04 Tahun III 2009 Halaman 44-47. Mari kita ikuti!
Hobi selalu membawa efek tersendiri bagi setiap orang dan lingkungannya. Syukur-syukur kalau positif dan menghasilkan, sebuah hobi akan menjadikan seseorang dan lingkungannya nyaman dan tenang, fisik maupun non-fisik. Tapi bagaimana kalau hobi menonton TV? Hhhmm… Sepertinya ini pengecualian (hobi) yang harus dihindari.
Sudah banyak pakar yang mengingatkan akan bahaya menonton TV secara berlebihan. Bagi pasangan suami istri, komunikasi bisa renggang dan terganggu, bagi anak-anak perkembangan jiwanya bisa sangat instan dan tidak terkontrol. Tentu saja tak ada larangan menonton TV. Ini keniscayaan teknologi.
Tapi kalau Anda sudah kecanduan (addicted) TV, dan merugikan banyak orang di sekitar Anda, saatnya Anda harus berintrospeksi. Semoga bermanfaat. (Kuis ini dibuat oleh Isa Azhari, dan pernah dimuat di majalah Parenting Keluarga Muslim, Edukasia).
1.         Berapa rata–rata waktu yang Anda gunakan untuk menonton TV setiap hari?
A.          Kurang dari 2 jam
B.          2 – 4 jam
C.      4 – 6 jam
D.      6 – 8 jam
E.       Lebih dari 8 jam
2.         Dalam mengisi waktu senggang, aktivitas apa yang Anda pilih?
A.           Tidur
B.           Rekreasi
C.      Membaca buku
D.      Menonton TV
E.       Memasak
3.         Dalam memilih tayangan TV, program apa saja yang menjadi favorit Anda?
A.           Berita
B.           Film / Sinetron
C.         Reality show / talk show
D.         Infotainment / gossip
E.          Musik / hiburan
4.         Dari sekian banyak stasiun TV, TV yang banyak menayangkan program apa yang menjadi favorit Anda?
A.             Berita / talk show politik
B.             Sinetron / film
C.          Reality show / infotainment
D.         Musik / olahraga
E.          Siraman rohani
5.         Kapan saja waktu yang sering ada pakai untuk menonton acara TV?
A.            06.00 – 10.00
B.            11.00 – 14.00
C.           15.00 – 18.00
D.          18.00 – 22.00
E.           22.00 ke atas
6.         Pada malam hari, pukul berapa Anda biasanya mengakhiri aktivitas menonton TV (mematikan TV)?
A.             21.00 – 22.00
B.             22.00 – 23.00
C.        23.00 – 24.00
D.       Di atas pukul 24.00
7.         Apakah Anda penonton setia tayangan sinetron bersambung tertentu?
A.              Tidak
B.              Ya, satu sinetron tertentu
C.          Ya, 2 hingga 4 sinetron
D.          Lebih dari 4 sinetron
8.         Seberapa seringkah Anda tidak mengikuti episode tertentu dari sinetron kesayangan Anda?
A.          Kadang-kadang
B.          Selalu mengikuti
C.          Satu atau dua episode
D.         Tiga hingga lima episode
E.          Lebih dari lima episode
9.         Apakah program TV tertentu sering menjadi topik atau bahan pembicaraan Anda dalam pergaulan sosial?
A.           Tidak pernah
B.           Sesekali
C.            Beberapa kali
D.            Sering
E.             Selalu
10.     Seberapa seringkah tayang TV tertentu menginspirasi Anda dalam dialog, diskusi, pemecahan masalah dan sebagainya?
A.          Tidak pernah
B.          Jarang
C.           Sesekali
D.          Beberapa kali
E.           Sering
11.     Apakah busana, aksesori, gaya dan tren yang Anda saksikan di TV memengaruhi gaya hidup Anda?
A.          Sama sekali tidak.
B.          Kadang-kadang.
C.            Ya, secara selektif.
D.            TV memang menjadi
referensi saya.
12.     Apakah dalam membeli produk tertentu Anda menjadikan tayangan TV sebagai referensi dan pertimbangan?
A.           Hanya untuk produk tertentu, referensi dari iklan.

B.           Iklan menjadi referensi saya untuk banyak produk.
C.            Selain iklan, tayangan infota-inment menjadi referensi saya.
D.           Iklan, infotainment, dan tayangan sinetron menjadi referensi saya.
13.     Seringkah Anda mengalami konflik dengan anggota keluarga lain dalam memilih tayangan TV?
A.          Tidak, saya tidak fanatik sta-siun atau tayangan tertentu.
B.          Sesekali pernah.
C.          Untuk tayangan favorit saya, saya akan berusaha bertahan.
D.           Karena TV-nya hanya satu, jadinya memang sering konflik.
E.            Saya ikut saja pilihan keluarga saya.
14.     Saat program favorit Anda ditayangkan, sedang anggota keluarga lainnya ingin menonton tayangan lain, apa yang akan Anda lakukan?
A.          Saya tidak punya program favorit, jadi saya ikut saja.
B.          Walau favorit, tapi saya tidak fanatik dan saya mengalah.
C.            Jika saya minoritas, saya terpaksa mengalah.
D.            Saya akan melobi anggota keluarga lainnya.
E.             Saya selalu bertahan untuk tetap menonton.
15.     Seringkah Anda harus menahan rasa kantuk untuk menanti dan menonton tayangan favorit Anda?
A.          Tidak pernah.
B.          Jarang, itu pun jika sangat ditunggu-tunggu.
C.          Ya. Namun jika sangat mengantuk, saya memilih tidur.
D.           Kadang-kadang, tapi akhirnya saya tertidur di depan TV
E.            Sering. Sayang dilewatkan.
16.     Pernahkah Anda begadang, bangun malam, menunda pekerjaan atau membatalkan jani demi menyaksikan tayangan yang Anda tunggu-tunggu?
A.          Tidak pernah
B.          Sangat jarang
C.             Sesekali
D.             Beberapa kali
E.              Sering

Penilaian:
Berikanlah nilai untuk setiap pilihan Anda berdasarkan tabel di bawah ini, lalu jumlahkan seluruh nilai yang Anda peroleh:
Jawaban Anda
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
A
1
3
1
1
3
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
1
B
2
2
4
4
2
2
2
4
2
2
2
2
2
2
2
2
C
3
1
2
3
3
3
3
1
3
3
3
3
4
3
3
3
D
4
4
3
2
4
4
4
2
4
4
4
4
4
4
4
4
E
5
2
3
1
3
-
-
3
5
5
-
-
3
5
5
5

Jika Total Nilai Anda Adalah:
1.               16-23:
Berbahagialah, Anda sama sekali tak memiliki ketergantungan dengan TV, bahkan cenderung tidak tertarik dengan acara-acara TV. Anda tidak memiliki program  atau tayangan favorit. Bagi Anda TV dan programnya tidak menjadi interest utama Anda. TV hanya alat biasa yang tidak lebih dari yang lain. Anda punya kegiatan dan interest lain yang cukup banyak di luar TV.
2.               24-39:
Anda menjadikan TV sekadar sebagai pengisi waktu senggang, lebih ke fungsi rekreatif. Walaupun Anda memiliki sejumlah program   atau tayangan favorit, tapi Anda bukanlah penggemar fanatik. Anda masih bisa memprioritaskan kegiatan lain yang lebih penting dari acara TV. Anda dapat membagi waktu antara menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari dan kebutuhan menonton TV.
3.               40-55:
Keterikatan dan ketergantungan Anda terhadap TV, terutama terhadap program atau tayangan tertentu telah masuk pada tahap yang mengkhawatirkan. Anda harus mencari sarana hiburan alternatif dan berlatih untuk tidak menghabiskan waktu Anda di depan TV. Anda terkadang kurang memprioritaskan tugas sehari-hari dan memutuskan memilih tayangan favorit Anda. Anda harus mulai bijak membuat prioritas dalam mengisi kegiatan.
4.               56-70:
Anda telah masuk dalam kategori pecandu TV. Sejumlah tayangan favorit Anda telah Anda perlakukan secara fanatik. Bahkan, dampak dari program TV itu telah merasuk ke dalam pola pikir dan gaya hidup Anda. Wakatu Anda banyak habis di depan layar TV. Anda bahkan telah mengorbankan waktu produktif dan jam tidur Anda. Anda harus serius mengatasi ketergantungan ini. Tidak menonton TV satu bulan penuh, akan menjadi terapi efektif bagi kecanduan Anda.

B.                  Kesimpulan dampak negatif TV
Gaya hidup (life style) kaum kafir yang dinakhodai oleh Barat, tersebar melalui film, iklan, majalah, video klip, internet, musik, dan lainnya. Sebagian umat Islam merasa lebih modern jika meniru cara berbusana, menata rambut, berbicara dan bertingkah laku ala Barat. Tak heran jika mereka berlomba-lomba menggunakan produk-produk Barat sekaligus mengadopsi gaya hidup konsumeris dan hedonistik. Bagi Barat keuntungan yang diperoleh menjadi ganda, ekonomi dan budaya sekaligus karena keduanya memang diprogramkan dalam satu paket.
Hampir semua media saat ini mengkesploitasi keindahan tubuh kaum Hawa demi keuntungan bisnis dengan dalih “seni” dan “kebebasan wanita”. Produk-produk bisnis seakan tak percaya diri untuk diterima pasar jika tidak menggunakan wanita sebagai iklan. Di saat yang sama, eksploitasi ini membuat kaum perempuan yang semestinya menjadi ibu rumah tangga dan penyangga utama pendidikan dalam basis keluarga, tapi malah berlomba-lomba mengejar karir di luar rumah. Tak perlu heran, jika berbagai persoalan sosial dan keluarga, termasuk eksploitasi seks datang menghadang tanpa bisa diselesaikan.
Televisi nyatanya telah menjadi kebutuhan primer. Biar makan pas-pasan asal punya TV, begitu kata benak banyak orang. Minat untuk menonton film-film yang mengumbar aurat dan hawa nafsu begitu kuat digemari. Kaum muda muslimin berusaha dininabobokan dengan slogan “cinta” dan “kebebasan”. Tujuannya agar mereka lupa dengan tugas mereka sebagai muslim, anggota keluarga dan bagian universal dari masyarakat muslim.
Berbagai sajian gaya hidup inilah yang sukses mengalihkan perhatian muslim dari hal-hal positif. Film-film Amerika Serikat menjadi tontonan maha penting bagi semua orang jika dibandingkan film-film ilmu pengetahuan. Info artis dan gosip selebritis seakan menjadi candu bagi sebagian ibu rumah tangga muslim. Akibatnya para ulama yang semestinya menjadi idola dan panutan malah ditinggalkan. Sebaliknya artis-artis dan pengumbar aurat yang semestinya diluruskan, justru menjadi anutan dan gaya hidup umat. Lebih fatal lagi, sebagian orang ingin mencampurkan sajian-sajian agama dengan musik dan hiburan yang mempertontonkan aurat wanita. Semuanya terjadi begitu cepat. Dengan dalih globalisasi, berbagai gaya hidup ini diperjuangkan lewat semboyan “3F”, food, fashion and fun (makanan, pakaian dan kesenangan).
Televisi (dan media massa yang lainnya) dicari dan dikembangkan untuk kemudahan manusia. Minimal ada empat fungsi utama yang ingin didapatkan dari media-media tersebut yaitu sebagai media hiburan, media informasi, media edukasi/pendidikan, dan sebagai media dakwah. Namun ironisnya, televisi sebagai media hiburan tampaknya lebih dominan, bahkan merajai porsi tayangan. Dan pada akhirnya menimbulkan akibat-akibat buruk dari televisi yang rentan bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Diantara dampak negatif dari tayangan televisi yang bisa disebutkan, yaitu :
1.                Melalaikan diri dari perintah Allah.
2.                Menjajakan propaganda Yahudi dan Nasrani.
3.                Mengajarkan khurafat, takhayul, mistis dan syirik melalui tayangan-tayangan perdukunan/paranormal. Dan hal ini tidak hanya tersebar di dalam televisi, akan tetapi juga marak di koran-koran dan majalah-majalah murahan.
4.                Media gosip (ghibah) dan mempergunjingkan aib orang lain.
5.                Mengajarkan model-model/pakaian yang tidak Islami dan cenderung menyerupai pakaian orang kafir (tasyabuh).
6.                Mengajarkan tayangan kekerasan, seperti tayangan Smackdown dan semisalnya.
7.                Mengajarkan hedonisme, konsumerisme, materialisme dan permisivisme (hidup serba boleh ) serta paham lain yang jauh dari Islami.
8.                Mengajarkan pornografi dan seks bebas.
9.                Pemberhalaan artis-artis luar dan dalam negeri, dan ini sangat memprihatinkan karena menyebabkan anak-anak kehilangan figur idola yang menjadi panutan.
10.            Mengajarkan angan-angan kosong yang jauh dari realita serta hidup yang serba instan dan tanpa usaha, dan pada akhirnya menempuh jalan pintas seperti perjudian, perdukunan, ramalan dan semacamnya.
11.            Bila ditonton terlalu lama, televisi bisa menyebabkan kerusakan mata dan pemborosan energi, serta kadar kolesterol meningkat.
12.            Menyebabkan penyakit Alzheimer (pikun yang akut) menurut penelitian Dr. Robert Friendland, seorang dokter spesialis syaraf dari Case Western University Hosipital of  Medicine, Amerika Serikat.

C.                  Tips Untuk TV Addict (Kecanduan Televisi)
Menonton televisi bukan berarti tidak boleh karena ada banyak manfaat tayangan televisi yang bermanfaat, seperti tayangan berita dan olahraga. Akan tetapi apabila porsi hiburan telah menjadi nomor satu, maka ini adalah satu masalah besar.
Kecanduan televisi merupakan sebuah penyakit yang perlu disembuhkan, berikut ini adalah beberapa tips untuk mengurangi/mengobati kecanduan TV:
1.                  Jangan memiliki banyak TV atau bahkan menempatkan TV di kamar tidur. Ini bisa memperparah kecanduan terhadap tayangan TV. Anda menonton TV bukan karena (acara) TV layak ditonton, tapi sayang saja, ada TV tidak ditonton.
2.                  Buatlah peraturan bersama bahwa TV harus “off” ketika waktu-waktu tertentu, seperti waktu sholat magrib, atau makan malam. Selain meminimalkan waktu menonton TV, diharapkan tercipta waktu lebih banyak untuk kegiatan yang lebih produktif, semisal berkomunikasi antar anggota keluarga.
3.                  Buat atau miliki aktivitas alternatif yang bersifat outdoor sehingga tidak terpaku ke TV kalau sedang tidak memiliki kegiatan.


DAFTAR PUSTAKA

D. Gray, Jerry. 2005. American Shadow Government. Jakarta : Sinergi.

Fauzy, Achmad. 1984. Benda dan Asal Muasalnya. Jakarta : Karya Pribumi

Haqani, Luqman. 2003. Musuh Yang Jadi Idola. Bandung : Mujahid.

Kompas, Sabtu, 4 Juni 2006.

Kompas, Sabtu, 10 Juni 2006.

Kompas, Senin, 30 Oktober 2006.

Kompas, Senin, 4 Desember 2006.

Kompas, Minggu, 17 Desember 2006.

Kompas, Selasa, 21 Agustus 2007.
Koswara, Koko. Agustus 1996. Iklan Televisi dan Eksploitasi Anak. Bandung: Suara Daerah No. 305, Halaman 47-48.

Majalah Elfata. Vol. 4 No. 11/2004.

Majalah Pendidikan Suara Daerah, Agustus 1992 No. 257, Halaman 71.

Majalah Sabili, No. 12 Th. X 2 Januari 2003 / 28 Syawal 1423 H, Halaman 70-71.

Majalah Smart Kids Edisi 04 Tahun III 2009, Halaman 44-47.

Pikiran Rakyat, Minggu 19 November 2006 / 27 Syawal 147 H.

Seputar Indonesia, Minggu, 3 Desember 2006, Halaman 13.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar