Selasa, 20 Maret 2012

ASAL-USUL TEMBAKAU


ASAL-USUL TEMBAKAU

Rokok memang sangat populer di masyarakat kita. Asap bakarannya bisa ditemukan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Bicara rokok tentu tak bisa lepas dari daun tembakau. Meski tak ada catatan resmi, para ahli menduga, tembakau mulai ada sejak tahun 6.000 SM di Amerika.
Mengenai asal-usul tembakau, masyarakat Indian Huron menerangkannya dengan sebuah mitos. Syahdan saat bumi masih gundul, penghuninya di serang kelaparan. Roh Agung mengutus seorang perempuan untuk menolong manusia. Pada tanah yang disentuh tangan kanannya, tumbuhlah kentang. Bila tangan kiri yung menyentuh, tanaman jagung yang tumbuh. Begitu jagung dan kentang telah berlimpah, ia pun duduk melepas lelah. Eh, saat ia bangkit, dari tanah tempat ia duduk menyembul tanaman tembakau.
Demikianlah mereka hendak mengatakan, betapa lamanya tembakau dan manusia telah bersahabat. Memang, tahun 1 SM penduduk asli Amerika telah merokok, mengunyah, dan mencium daun tembakau. Bahkan di tahun 1 M, tembakau bisa ditemukan di hampir seluruh Amerika.
Diduga pula, istilah tobago yang semula nama sejenis pipa rokok masyarakat Indian di Karibia terpeleset menjadi tobacco atau tembakau dalam bahasa kita. Sedangkan sigaret bisa jadi berasal dari istilah Indian Maya Sik’ar yang artinya merokok. Suku ini diketahui sudah merokok pada tahun 600-1.000. Ini berdasar peninggalan berupa bejana tanah liat dari sebelum abad XI di Uaxactun, Guatemala. Di permukaannya ada gambar orang Indian Maya merokok lintingan daun tembakau.
Tembakau pun “keluar” dari benua Amerika saat 12 Oktober 1492 Cristobal Colon atau Columbus dan awaknya mendarat untuk pertama kali di pantai P. Watling, Amerika Tengah. Mengiranya dewa, menurut jurnal Columbus, “Penduduk asli Arawak mempersembahhan buah-buahan, tombak kayu, dan sejenis daun kering yang berbau aneh”. Sekembali ke kapal, mereka memakan buah-buahan, tapi daun kering itu dibuang.
Namun, siapakah penemu rokok? Namanya Rodrigo de Jeres dan Luis de Torres. November 1492, di Kuba mereka melaporkan, penduduk asli membungkus tembakau kering dengan daun palem atau jagung, menyalakan salah satu ujungnya, lalu mengisap asapnya. Jerez pun meniru. Mungkin dialah perokok pertama bukan asli Amerika. Kebiasaannya berlanjut saat pulang ke Spanyol. Malang, kepulan asap dari mulut dan hidungnya membuat para tetangga takut sampai ia dipenjarakan. Ironisnya, saat ia bebas tujuh tahun kemudian, masyarakat sudah demam rokok.
Sebenarnya, biji tembakau dibawa ke Spanyol dari Santo Domingo tahun 1559 dan ke Roma pada 1561, mula-mula
diperkenalkan sebagai tanaman hias dan obat. Ia pertama kali dibawa ke Eropa dari Florida tahun 1505 oleh Sir John Hawkins, pahlawan AL Inggris. Namun, baru 20 tahun kemudian budaya merokok dengan pipa mulai muncul di Inggris, yang akhirnya menyebar ke seluruh benua Eropa.
Rokok sigaret sebenarnya sudah ada sejak 1518, seperti milik masyarakat Aztec, Meksiko, yang mirip produk abad XX. Bedanya, tembakau rajangan sigaret Aztec dijejalkan ke dalam batang berlubang atau dibungkus daun, biasanya jagung. Pada abad XVI, gelandangan Sevilla, Spanyol, memunguti puntung-puntung cerutu yang terbuang, membongkar isinya, lalu melintingnya lagi dengan kertas koran. Cara irit itu ternyata ditiru kaum non gelandangan. Pekerjaan tangan itu mulai jarang dilakukan setelah ditemukan mesin pelinting sigaret pada awal tahun 1880-an.
Pada dekade I abad XVII, seluruh belahan dunia telah mengenal tembakau. Budidaya yang dilakukan John Rolfe, suami Pocahontas, di Jamestown tahun 1612 mendongkrak nilai ekonomi tembakau. Nilai daun tembakau terus meroket sampai di abad XVII dan awal XVIII sempat menjadi alat tukar. Bayangkanlah, pajak, utang, bahkan gaji pegawai negeri, tentara, dan pendeta, semuanya dapat dilunasi dengan daun tembakau. Namun, yang bertahan sampai kini, ya fungsi utamanya tadi, sebagai bahan baku rokok.
(Sumber : Intisari Agustus 1999 No. 433 Tahun XXXVI)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar